Yuk, Belajar Bersyukur dengan Mengunjungi Jejak-Jejak Tsunami di Aceh!

Yuk, Belajar Bersyukur dengan Mengunjungi Jejak-Jejak Tsunami di Aceh!

1.2K
Gratitude is when memory is stored in the heart and not in the mind. ~ Lionel Hampton

Kota Banda Aceh itu bisa dibilang nggak terlalu luas, Ma. Kabarnya sih satu hari saja cukup untuk Mama dan keluarga mengelilingi kota ini. Dan itu benar adanya. Dalam waktu singkat saja kita bisa dengan segera kenal dan bisa langsung akrab dengan kota ini. Ya, lagi-lagi bolak balik di sini-sini juga. Simpang lima dan Masjid Raya Baiturahman merupakan dua tempat yang akan sering kita lewati.

Meski nggak terlalu luas, namun ada yang sangat menarik di sini, yang nggak bisa Mama temukan di daerah lain. Yaitu, di sinilah terdapat lokasi wisata unik untuk mengenang bencana tsunami besar di tahun 2004, dan asyiknya lagi, yang bisa kita kunjungi dalam satu hari wisata.

Apa saja? Yuk, Ma, kita jalan-jalan ke Banda Aceh!


Museum Tsunami Aceh


Image via Wikipedia

Museum Tsunami, yang berlokasi di Jalan Sultan Iskandar Muda Banda Aceh, ini dirancang oleh Ridwan Kamil, si Walikota Bandung itu, Ma. Desain arsitektur bangunannya khas banget rancangan beliau, didominasi oleh warna cokelat dengan detail yang luar biasa.

Untuk bisa masuk ke museum ini kita nggak dikenai biaya, Ma. Begitu masuk, kita akan disambut oleh helikopter rusak yang menjadi bukti fisik keganasan tsunami. Cuaca panas terik yang biasa kita rasakan di Banda Aceh langsung terasa hilang, karena begitu sejuk dan ademnya berada di dalam museum ini.

Ada lorong panjang dan gelap, dengan suara deburan ombak dan gemericik air, merepresentasikan suasana saat tsunami menerjang Aceh. Duh, Ma, merinding deh! Dinding lorong pertama museum ini memang dialiri air. Rasanya seperti sedang dibawa masuk ke dalam sensasi tsunami mengerikan yang merenggut ribuan nyawa itu. Brrr!

Setelah melalui lorong, maka sampailah kita ke ruangan dengan lantai berundak berdinding kaca. Di situlah terdapat layar yang memutar film dokumenter mengenai kejadian tsunami 2004 lalu.

Setelah keluar dari ruang kaca, kita akan berada di ruangan yang serupa sumur, Ma. Nama ruang tersebut adalah sumur doa. Memang saat berada di situ, kita akan seolah berada di dasar sumur. Di bagian paling atas tampak lingkaran dengan tulisan kaligrafi Allah. Mama pasti bakalan merasa terharu dan merinding yang kesekian kalinya di sini. Apalagi dengan deretan nama-nama korban tsunami yang dipahat di dinding sumur. Yang namanya ada di situ adalah nama-nama korban yang ditemukan dan dikenali, Ma. Jumlah korban hilang pasti jauh lebih banyak. Lantunan ayat AlQuran yang diperdengarkan di sini akan membuat hati Mama makin perih.

Keluar dari sumur doa, jalanan akan memutar mengikuti alur sumur. Kemudian kita akan berada di jembatan panjang yang menghubungkan ke bagian lain dari Museum Tsunami ini. Jembatan panjang ini merupakan simbol pemulihan kondisi Aceh pasca tsunami, yang dilambangkan dengan adanya gambar bendera negara-negara yang membantu proses pemulihan tersebut. Nama-nama negara donor juga turut diabadikan di batu-batu bulat yang ditata berjejer mengikuti arah jembatan.

Menyeberangi jembatan kita akan berada di satu bagian di mana kita bisa memilih ruangan mana yang selanjutnya akan kita masuki. Ada ruang pameran foto-foto tsunami Aceh sebelum dan sesudah tsunami, dan juga kejadian-kejadian unik seputar tsunami lainnya. Ada pula ruang pemutaran film, ala theater mini yang memutar kejadian 26 Desember 2004 itu.

Nikmati setiap jengkal cerita yang disajikan dalam museum ini, Ma. Biarkan anak-anak merasakan empati besar pada korban bencana alam, dan juga ikut mendoakan para korban.


Baca juga: Nggak Cuma Menahan Hawa Nafsu, Ini Dia 25 Hal Baik yang Bisa Mama dan Keluarga Lakukan Selama Bulan Ramadan


Boat di Atas Rumah


Image via Aceh Trip

Tempat wisata tsunami selanjutnya ada di di Gampong Lampulo, Jalan Tanjung, Ma.

Sebuah kapal boat yang cukup besar nampak terdampar dan menimpa rumah warga. Meski rumah-rumah di sekitarnya sudah kembali dibangun dan dihuni, namun nggak ada perbaikan yang dilakukan khusus untuk rumah yang tertimpa boat ini.

Boat tersebut nangkring dengan cantiknya di atas rumah, sehingga menjadi semacam landmark atau monumen khusus sebagai pengingat bahwa kita pernah survive di bencana terbesar sepanjang sejarah tersebut. Kita bisa naik sampai ke atas boat, Ma, untuk mengambil foto, karena juga disediakan tangga untuk sampai ke atas.

Untuk bisa menikmati suasana di sini, kita juga nggak dikenai biaya. Jangan lupa untuk juga mampir di beberapa toko souvenir di sana.


Baca juga: Masih Mudik di Kampung? Ayo, Nikmati Sepenuhnya dengan 7 Cara Tak Terlupakan Ini!


Kapal PLTD Apung


Image via Destinindonesia

Selain kapal tadi ada juga kapal lain yang terdampar di tengah pemukiman penduduk, Ma. Kapal Pembangkit Listrik Tenaga Diesel Apung ini berlokasi di Desa Punge Banda Aceh.

Kapal ini merupakan sumber tenaga listrik bagi wilayah Ulee Lheue, tempat kapal ini ditambatkan sebelum bencana tsunami terjadi. Kapal yang berukuran panjang 63 meter dan luas mencapai 1.900 meter pesegi dengan bobot 2.600 ton ini, mampu menghasilkan daya listrik sebesar 10,5 megawatt lho. Kebayang nggak sih, kapal sebesar dan seberat ini saja mampu terdampar di tengah Banda Aceh! Dahsyat banget!

Kabarnya gelombang yang telah menyeret kapal ini tingginya mencapai 9 meter, Ma. Dan dengan begitu kuatnya, mampu menggeser kapal hingga sejauh 5 kilometer ke tengah permukiman, nggak begitu jauh dari Museum Tsunami! Wow! Kapal PLTD ini kini menjadi lokasi wahana wisata edukasi, serta dijadikan monumen yang ditata sedemikian rupa dengan relief yang menyerupai air bah.

Untuk kemari, kita juga nggak dikenai biaya masuk ya, Ma. Hanya ada beberapa kotak amal yang disediakan jika kita ingin menyumbang.


Baca juga: Beberapa Tips Sederhana Namun Jitu Ini Bisa Membantu Mama untuk Menghemat Listrik Setiap Bulannya


Masjid Baiturahim Ulee Lheue


Image via coretankeciluntuknegerisurga . wordpress . com

Masjid Baiturahim Ulee Lheue terletak di Kecamatan Meuraksa, Banda Aceh, dan merupakan peninggalan Sultan Aceh pada abad ke-17.

Di masa itu masjid ini merupakan Masjid Jami' atau Masjid Raya, Ma. Pada tahun 1873 saat Masjid Raya Baiturrahman dibakar Belanda, masyarakat terpaksa melakukan salat jumat di Ulee Lheue. Maka sejak itulah Masjid ini dinamai Baiturahim.

Meski posisinya dekat sekali dengan pantai, anehnya masjid ini selamat selama bencana tsunami terjadi. Ya, meski tetap ada kerusakan di sana sini, tapi relatif bangunan ini masih kokoh. Padahal semua bangunan di sekitarnya rata tanah semua!

Kabarnya saat bencana itu terjadi, tinggi gelombang yang menyapu daerah Ulee Lheue ini mencapai tinggi 21 meter! Wow! Lagi-lagi kebesaran Ilahi telah terbukti ya, Ma! Karena itu kita nggak boleh lupa padaNya!


Baca juga: Raih Berkah Bulan Ramadan dengan 7 Langkah Penuh Rahmat Ini Yuk!


Masjid Raya Baiturrahman


Image via Wikipedia

Terakhir, jangan sampai lupa untuk mengunjungi Masjid Raya Baiturrahman ya, Ma.

Masjid Raya yang mempunyai sejarah panjang ini dibangun oleh Sultan Iskandar Muda pada tahun 1612. Masjid ini sempat terbakar habis saat agresi Belanda di tahun April 1873. Terletak di pusat kota Banda Aceh dilengkapi dengan menara setinggi 35 meter (yang saya lihat agak miring. Entah benar miring atau hanya ilusi mata?), 7 kubah besar dan 7 menara, masjid ini telah menjadi icon Aceh yang sesungguhnya.

Baiturahman menjadi contoh preseden arsitektur bagi masjid lain di Indonesia, hingga ke Semenanjung Malaysia. Konon, katanya sih mirip dengan Taj Mahal di India ya. Hmmm ... harus dibuktikan nih! Kapan-kapan kita ke sana yuk, Ma! Hihihi.

Selain bukti keindahan arsitektur Islam, Masjid Raya ini juga menjadi saksi keganasan tsunami, hingga menjadi tempat berlindung bagi warga Aceh yang menyelamatkan diri dari air bah tsunami.


Baca juga: Liburan Nggak Harus Mahal. Ini Dia 4 Cara untuk Menikmatinya Secara Murah Meriah!


Dan, apa yang bisa Mama dan keluarga dapatkan dari perjalanan wisata tsunami di Aceh ini?

Apalah kita dibandingkan Dia, Ma? Nggak ada kepantasan sedikit pun untuk berbangga diri terlebih membusungkan dada jika tanpa kehendakNya. Betapa kecil kita di hadapanNya!

Semua bukti dan saksi nyata bencana tsunami telah menjadi pelajaran dan peringatan sekaligus wujud kasih sayangNya. Konon, sejak peristiwa tsunami tahun 2004, perpecahan dan perang saudara yang tadinya nyaris tanpa henti, akhirnya berhenti. Mungkin itulah jalan dariNya agar negeri ini berdamai.

Karena itu, jangan lupa untuk bersyukur setiap hari ya, Ma!

Selamat menikmati Banda Aceh, Mama!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Yuk, Belajar Bersyukur dengan Mengunjungi Jejak-Jejak Tsunami di Aceh!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Ophi Ziadah | @OphiZiadah

Mom of Trio Alinga, Zaha, and Paksi. Legislative drafter who loves blogging. Visit her personal blog at www.ophiziadah.com www.marlekum.net

Silahkan login untuk memberi komentar