Waspada Menopause Dini - Ancaman Diam-diam yang Meresahkan Para Perempuan Matang

Waspada Menopause Dini - Ancaman Diam-diam yang Meresahkan Para Perempuan Matang

4.3K
Menopause dini bahkan bisa terjadi pada Mama yang masih berusia kepala 3!

Menopause dini, barangkali Mama belum lagi memikirkannya ya? Mungkin Mama berpikiran, ah, usia baru kepala tiga ini. Masa sih sudah harus mikirin menopause? Bukannya menopause baru akan datang saat usia kita sudah menginjak 50 tahun?

Well, for your information, Mama, bahwa terkadang, ada kondisi tertentu yang mengakibatkan menopause hadir lebih awal, bahkan pada mereka yang masih berada kisaran “kepala tiga”!

Nggak percaya?

Ada data statistik mengenai jumlah penderita menopause dini di dunia, Ma.

  • Lebih kurang 1 dari 100 perempuan usia 40 telah mengalami menopause
  • Lebih kurang 1 dari 1000 perempuan usia 30 telah mengalami menopause
  • Lebih kurang 1 dari 10.000 perempuan usia 20 tahun telah mengalami menopause!

Wah, so, peluangnya selalu ada tuh, Ma, meski Mama baru berusia 20-an atau 30-an.


Risiko-risiko menopause dini


Image via 34 Menopause Symptoms

Sama seperti fase menopause yang terjadi secara normal, menurut Kick Panay, kepala British Menopause Society, menopause dini juga hadir dengan disertai sejumlah gejala yang relatif mudah diamati. Gejala-gejala tersebut muncul akibat perubahan keseimbangan kadar hormon estrogen dan progesteron di dalam tubuh. Pasalnya, memasuki fase menopause, fungsi ovarium berkurang sehingga hanya dapat memproduksi sedikit hormon estrogen.

Berkurangnya kadar estrogen tersebut mengakibatkan tubuh terpaksa melakukan proses adaptasi, yang pada akhirnya muncul dalam bentuk sakit kepala, serangan panas (hot flashes) –terutama pada daerah kepala dan leher—rambut rontok, gangguan mood, berkurangnya cairan vagina, berkeringat di malam hari, gusi berdarah, kelelahan kronis, serta penurunan frekuensi menstruasi hingga akhirnya haid berhenti sama sekali.

Tapi berhubung kondisi tubuh setiap orang berbeda-beda, maka gejala menopause yang muncul juga tidak selalu sama bentuk dan intensitasnya.

Berdasarkan riset yang dilakukan di Swedia dan dipublikasikan dalam International Journal of Obstetrics and Gynecology tahun 2012, perempuan yang mengalami menopause dini berisiko dua kali lipat terserang penyakit keropos tulang (osteoporosis).

Hasil penelitian lain yang dilakukan di University of Alabama, juga menyebutkan bahwa perempuan yang mengalami menopause dini memiliki risiko lebih tinggi terserang penyakit jantung dan stroke.

Duh. Mama.


Penyebab menopause dini


Dalam buku Miller & Romaine – The Complete Idiot’s Guide to Menopause disebutkan, bahwa penyebab yang sudah pasti adalah karena operasi pengangkatan indung telur yang biasanya dilakukan untuk memerangi sel-sel kanker. Upaya pengendalian kehamilan dengan cara sterilisasi juga memicu terhentinya ovulasi.

Bila terjadi kesalahan dalam proses operasi, maka pembuluh darah menuju ovarium pun bisa ikut terikat bersama saluran telur. Akibatnya, sel telur tak bisa berkembang dan siklus menstruasi terhenti.

Pemicu lain terjadinya menopause dini adalah proses radioterapi dan kemoterapi jangka panjang. Penderita kanker yang menjalani kedua jenis terapi ini berisiko tinggi mengalami menopause dini.

Selain menopause dini, ada pula kondisi lain yang disebut menopause prematur. Keduanya sama-sama ditandai dengan berhentinya siklus menstruasi. Hanya saja, berbeda dengan menopause dini yang terjadi karena ovarium tidak lagi mampu memproduksi sel telur, seseorang yang mengalami menopause prematur dikarenakan tubuhnya tidak merespons sinyal untuk melakukan ovulasi, meski sebenarnya ovariumnya masih bisa memproduksi sel-sel telur.

Jika ditangani secara tepat—antara lain dengan metode terapi hormon, penderita menopause prematur masih memiliki kesempatan untuk mengembalikan siklus menstruasi dan memiliki keturunan.


Satu hal ini penyebab menopause dini yang harus kita hindari


Selain hal-hal yang disebutkan di atas, penelitian juga membuktikan adanya faktor lain yang memicu terjadinya menopause lebih awal.

Konsumsi obat pelangsing adalah salah satu di antaranya. Pasalnya, obat pelangsing pada umumnya mengandung zat yang bisa menekan produksi hormon gonadotropin—yaitu hormon yang bertanggung jawab terhadap perkembangan telur di dalam ovarium.

Menurunnya produksi gonadotropin akan mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan sel telur sehingga lama kelamaan ovarium berhenti memproduksi sel telur.

Selain itu, kebiasaan merokok dan berolahraga terlalu berat juga dinyatakan mampu meningkatkan risiko terjadinya menopause dini. Sebabnya, olahraga dalam porsi berlebihan mampu membuat turunnya produksi hormon insulin dan IGF (Insulin-like Growth Factor). Padahal hormon-hormon ini amat penting perannya bagi perkembangan sel telur. Jika sel telur tidak dapat berkembang, maka siklus menstruasi akan terganggu atau bahkan berhenti sama sekali.

Sedangkan nikotin dan zat bersifat racun lain yang terkandung dalam asap rokok mampu mengurangi kemampuan paru-paru untuk menyalurkan oksigen ke dalam aliran darah.

Racun dari rokok juga membuat pembuluh darah menjadi kaku, sehingga mengganggu transportasi darah menuju jaringan dan sel tubuh.

Akibatnya, pasokan zat makanan dan oksigen yang dibutuhkan sel-sel telur untuk berkembang juga akan ikut terganggu. Tak mau lekas-lekas berhadapan dengan menopause kan?


Nah, Mama, sudah tahu kan betapa "nggak ngenakin"-nya menopause dini.

Yuk, koreksi gaya hidup kita dari sekarang!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Waspada Menopause Dini - Ancaman Diam-diam yang Meresahkan Para Perempuan Matang". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Carolina Ratri | @carolinaratri

An INFJ-T sarcastic sagittarian Managing Editor of Rocking Mama. Deeply passionate about writings, graphic designs, hand-drawings, and hand-letterings. Read her journal at www.CarolinaRatri.com

Silahkan login untuk memberi komentar