Please, Jangan Memicu Baby Blues Syndrome dengan Melontarkan Pertanyaan dan Pernyataan yang Menghakimi Ini!

Please, Jangan Memicu Baby Blues Syndrome dengan Melontarkan Pertanyaan dan Pernyataan yang Menghakimi Ini!

2.7K
Baby blues syndrome itu nyata, dan risikonya tak bisa dianggap remeh. Jadilah pintar, bijak dan suportif, dengan tidak melontarkan komentar, entah itu bernada canda ataupun serius, yang menghakimi dan menyudutkannya.

Mungkin Mama sudah sering membaca atau tahu ya, berita mengenai seorang ibu yang tega membunuh anak kandungnya sendiri. Kita begitu kaget, miris, dan ngerti mendengar ada seorang ibu yang terkenal pendiam, baik dalam pergaulannya dan terlihat tanpa masalah, ternyata menjadi pelaku pembunuhan. Berbagai ulasan dan analisis mengenai perilaku si ibu pun tak kalah membanjiri media. Hingga ada salah satu kesimpulan, yang menyebutkan kemungkinan si ibu mengalami yang namanya baby blues syndrome yang kemudian berkembang ke arah postpartum depression atau depresi pasca melahirkan.

Bagaimana bisa baby blues syndrome dan depresi pasca melahirkan ini menyerang seorang ibu?


BACA JUGA


Inilah Kisah Saya, Sang Survivor Depresi Pasca Melahirkan - Saat Menjadi Seorang Mama Jadi Hal yang Begitu Menakutkan

Inilah Kisah Saya, Sang Survivor Depresi Pasca Melahirkan - Saat Menjadi Seorang Mama Jadi Hal yang Begitu Menakutkan

Depresi pasca melahirkan dialami oleh 10 - 15% mama yang baru melahirkan dari 80% yang mengalami baby blues syndrome. Depresi pasca ...

Read more..


Begini ceritanya.

Seorang ibu telah mengandung selama 9 bulan lebih. Saat hamil itu saja mereka sudah harus menghadapi banyak "tuntutan" dari luar dirinya demi janin yang dikandungnya. Ada ibu yang harus mengorbankan ini dan itu, demi kesehatan dan keselamatan bayi. Yah, itu mungkin masih dalam taraf wajar, karena semua orang begitu perhatian, begitu menginginkan si bayi dan si ibu sama-sama sehat.

Kemudian tibalah waktunya melahirkan. Ia harus merasakan sakit yang luar biasa saat si bayi tengah mencari jalan lahirnya. Atau mungkin dia harus menyerahkan dirinya di meja operasi karena memang kondisi tubuh yang tak memungkinkannya melahirkan sendiri bayinya. Belum selesai di situ, ia masih berjuang saat harus menahan sakit ketika jalan lahirnya dijahit, atau harus melalui pemulihan pasca operasi.

Konon, katanya semua rasa sakit itu memang akan terbayar, saat ia menjumpai seorang bayi mungil tengkurap di dadanya, atau saat untuk pertama kalinya tercium aroma harum itu, juga saat ia membelai lembut kulit rapuh yang masih merah.

Memang dalam detik berikutnya, seorang ibu pun lantas menerima ribuan ucapan selamat. Sanak saudara, teman, dan tetangga berdatangan memberikan selamat, tak jarang pula yang membawakan hadiah. Mereka antre, bergantian menimang si bayi mungil.

Tanpa mereka sadari, sesuatu tengah dan telah terjadi pada diri si ibu.



Orang-orang (dan bahkan orang-orang terdekatnya sendiri, seperti suami) terlalu sibuk dengan si kecil, tanpa memberikan apresiasi kepada sang ibu. Menganggap hal yang biasa saja, sang ibu memang seharusnya bahagia karena sekarang sudah mempunyai anak (yang pastinya diinginkannya). Sudah sewajarnya pula si ibu memenuhi semua hak si bayi.

Sebagian hanya sekilas menoleh ke arah ibu, dan memberi selamat. Parahnya, selamat itu sering diiringi dengan komentar seenaknya, sekenanya. Padahal perempuan yang baru saja menyandang peran baru itu sebetulnya membutuhkan support besar dan perhatian selayaknya si bayi kecil mungil. Ia juga harus dibimbing untuk menemukan dirinya kembali.


Ini dia komentar-komentar seenaknya dan sekenanya dari orang-orang yang bisa memicu terjadinya baby blues syndrome, yang bisa berlanjut ke tahap depresi pasca melahirkan.


"Lahirannya caesar ya? Enak dong, nggak ngerasain sakit!"



For your information, semua ibu selalu berdoa, memohon agar dimudahkan dalam persalinan. Kadang sudah tak ada lagi yang bisa terlintas di benak ibu, yang penting bayinya selamat.

Tetapi pada kenyataanya, dokter menyatakan kesehatan dan keselamatan bayi dan ibu harus diutamakan, dan jalannya adalah dengan operasi caesar, atau Sectio Caesarea.

Lalu, apakah hanya karena keputusan yang diambil berdasarkan pertimbangan kesehatan dan keselamatan nyawa 2 orang itu, dia lantas bisa dihakimi sebagai bukan ibu yang baik bagi anaknya? Bahwa dia bukanlah ibu yang sesungguhnya karena tak pernah merasakan sakitnya melahirkan normal?

Siapa sebenarnya yang memulai memberikan label "perfect mom" atau "real mom" bagi ibu yang melahirkan normal, dan "unperfect mom" atau ibu abnormal bagi ibu yang melahirkan secara caesar?

Mereka tahu nggak sih, gimana sakitnya melahirkan secara caesar?

Please deh, simpan saja komentar itu! Nyadar nggak sih, bahwa kalimat singkat seperti itu bisa berdampak panjang kepada kesehatan jiwa sang ibu. Bayangkan saja, belum apa-apa mereka sudah diberi label yang begitu menyakitkan hati.


"ASI Eksklusif kan?"



Si komentator lahiran caesar berlalu, ternyata datang lagi yang lain.

Kini hadirlah seorang teman, ia seumuran dan sudah merasa sukses banget menjadi ibu, bertanya dengan pertanyaan dengan kadar menyebalkan yang sama.

"ASI Eksklusif kan? Nggak boleh ditambahkan susu formula ya, walaupun hanya satu botol dot di awal kelahiran lho! Karena kalau sudah ditambahkan sufor, itu sudah bukan ASI Eksklusif lagi. Kalau anakmu sufor, nanti penyakitan, kurus, nggak jadi anak pinter. Makanya, jauhin itu sufor."

Apa yang terjadi?

Sang ibu pun lantas kepikiran, bagaimana dengan nasib bayinya yang sudah terlanjur diberikan susu formula karena menangis sehari semalaman gara-gara ASI si ibu masih saja susah keluar? Atau karena sang ibu yang belum paham dengan kebutuhan ASI bayi yang baru lahir?

Penyesalan dan kesedihan kemudian menyelimuti sang ibu baru, karena ia terlanjur menyuapi bayinya dengan susu formula. Ibu pun merasa sedih, merasa gagal, dan ASI jadi seret. Di situ, ia pun salah lagi!


"Gimana sih, ASI-nya kok nggak lancar? Kamu nggak mau berjuang sih!"


Tahu nggak sih, bahwa yang bikin ASI nggak lancar salah satunya adalah perasaan tertekan, buah dari baby blues syndrome, yang merupakan efek dari tuntutan-tuntutan yang nggak perlu itu?

So, kenapa nggak tahan dulu menjadi sok pintar tentang ASI saat menjenguk ibu yang usai melahirkan? Lebih baik berikan kata-kata semangat yang membuat hati si ibu merasa bahagia. Sediakan diri dan telinga mendengarkan keluh kesah si ibu. Ringankan bebannya.

Kebahagiaannya itulah yang akan membuat cucuran ASI semakin berlimpah.


"Kamu sih makan macem-macem, makanya anakmu jadi sakit begini! Kalau mau bebas makan, ya udah nggak usah disusui biar nggak sakit!"


Sepulangnya dari rumah sakit, si ibu baru ternyata justru makin tertekan dan semakin parah mengalami baby blues syndrome.

Di rumah, ada entah itu ibu mertua atau ibunya sendiri, yang selalu memberi nasihat, menuturi, dan menyuruhnya untuk tidak melakukan ini dan itu, tidak makan ini dan itu, harus banyak minum jamu pahit agar cepat ini itu, dan seterusnya. Perasaan semakin tertekan saat bayinya demam, atau flu, batuk dan seterusnya.

Bahwa ternyata, ialah yang menyebabkan bayinya sakit!

Pada titik ini, wajarlah seorang ibu begitu drop kondisi kejiwaannya. Rasa tak percaya diri, perasaan gagal, perasaan telah menjadi ibu yang nggak baik, dan seterusnya itu membuatnya mengalami depresi.

Pada saat ia mungkin sudah mulai mengalami gejala baby blues syndrome.


"Anaknya kok kecil/kurus sekali? Wah, gizinya diambil mamanya semua sendiri ya? Hihihi."


Ya, bisa saja komen itu terlontar sembari bercanda. Nggak serius. Tanpa menyadari, bahwa ada dampak serius yang mengikutinya.

Ya, itu tadi komentar datang dari para kader posyandu yang mengaku sebagai tenaga medis dan konselor ibu menyusui. Atau bisa juga datang dari para tetangga yang sok perhatian, yang lewat saat si ibu sedang menjemur bayinya agar panas matahari pagi menyehatkan kulit si bayi.

Ya, komentar itu muncul, karena melihat tubuh ibu yang tak kunjung juga kembali langsing seperti semua, masih gendut, sedangkan bayinya masih belum bisa mengejar ketertinggalan berat badan lahir yang dialaminya.

Tolonglah, hentikan komentar itu. Mana ada ibu yang nggak ngasih makan anaknya? Kata-kata itu sungguh meremehkan! Apa susahnya mengganti kata-kata menyalahkan itu dengan semangat atau saran-saran yang enak didengar?


BACA JUGA


Langsing Setelah Melahirkan? Bukan Lagi Impian, dengan 3 Tips Super Sederhana Ini!

Langsing Setelah Melahirkan? Bukan Lagi Impian, dengan 3 Tips Super Sederhana Ini!

Fat belly and postpartum marks are all I have since I delivered my babies into this world. And that's a sweet-kinda sucks memory

Read more..


Dan ke manakah suaminya?

Beruntung jika suami memahami hal-hal yang sedang terjadi pada istrinya. Beruntung jika suami cukup aware dengan baby blues syndrome karena ia juga rajin mencari tahu, rajin update dan suka membaca.

Kalau tidak?

Bisa jadi malah memperburuk kondisi si ibu!

Karena itu, Papa, begitu Mama mulai mengandung dan dinyatakan hamil, mulailah pula untuk rajin mencari tahu dan update pengetahuan seputar kehamilan, menyusui dan segala macam tetek bengek soal bayi. Anak merupakan tanggung jawab berdua bukan? Jangan biarkan istri Papa sendirian mencari tahu, bagaimana cara menyusui yang benar, bagaimana cara merawat bayi baru lahir yang tepat dan seterusnya itu sendirian. Jika memang Papa tak bisa membantu dan langsung handle, setidaknya Papa bisa mengerti apa saja yang menjadi beban Mama sebagai ibu baru.

Berikan support dan kuatkan jiwa Mama agar ia tetap waras dalam merawat keturunannya. Jangan justru menambah rasa bersalah dan rasa lelah jiwanya, karena Papa berkomentar terhadap keadaan rumah yang tak pernah rapi. Lebih baik ambil alih si kecil saat ia sudah tenang dan kenyang, lalu berikan waktu buat Mama untuk mandi dan sejenak menikmati secangkir tehnya.


BACA JUGA


Ternyata Depresi Pasca Kelahiran Juga Terjadi pada Papa. Begini Gejalanya!

Ternyata Depresi Pasca Kelahiran Juga Terjadi pada Papa. Begini Gejalanya!

Siapa sangka depresi pasca melahirkan ternyata nggak hanya terjadi pada para mama baru. Para papa juga rentan terserang depresi ini, dan ...

Read more..


Karena ibu yang waras dan bahagia akan memberikan kebahagiaan kepada anak-anak dan keluarga. Cobalah untuk sekali-sekali mendengarkannya, dan berempati pada kelelahannya. Jangan hanya terus berbicara dan menggurui, hingga membuatnya tertekan.

Baby blues syndrome itu nyata, dan risikonya tak bisa dianggap remeh.

Stay healthy, Mama!



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Please, Jangan Memicu Baby Blues Syndrome dengan Melontarkan Pertanyaan dan Pernyataan yang Menghakimi Ini!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Yeni Susanti | @yenifkip

Silahkan login untuk memberi komentar