Perang Para Mama, Perang Abadi - Kapan Akan Berakhir? Apa yang Mama Dapatkan?

Perang Para Mama, Perang Abadi - Kapan Akan Berakhir? Apa yang Mama Dapatkan?

1.9K
Perang para mama; working mom vs stay at home mom, sukses ASI eksklusif vs gagal ASI eksklusif. What is it all about, Mama? Untuk apa ada perang para mama ini?

Perang ini seakan tak ada akhirnya. Yap, perang para mama. Mom’s war. Perang sepanjang masa. Padahal seharusnya para mama ini saling mendukung satu sama lain.

Hidup penuh dengan pilihan bukan? Saat memutuskan sesuatu untuk anaknya, setiap orangtua pasti telah mempertimbangkan berbagai pilihan dengan masak-masak.

Tapi, kalau sudah mulai berhubungan dengan orang lain, nggak jarang pilihan kita ini jadi salah, seenggaknya di mata orang lain. Yang kita anggap sesuai dan ideal dengan keluarga kita, tiba-tiba menjadi tak berkenan di mata orang lain.

Coba kita lihat, apa saja hal yang diributkan dalam perang para mama ini.




1. Ibu bekerja vs ibu rumah tangga

Kubu ibu bekerja:

Ih, di sosmed posting kalau bangga menjadi IRT, tapi di rumah berbalik 180 derajat. Mengeluh nggak ada kerjaan, bosan, capek urus rumah dan anak, dan ngeluh nggak punya uang! Kurang bersyukur banget sih! Padahal kerjaannya cuma nonton sinetron, arisan dan nggosip doang sama tetangga lho.

Kubu ibu rumah tangga:

Dari lahir sampai SD dirawat pembantu, orangtua sibuk kerja. Kasihan deh, jadi anak pembantu. Wanita karier dipandang lebih smart, lebih eksis, lebih sukses, lebih cetar dan lain-lain. Sedangkan, apalah kami yang IRT ini?


Perang para mama: ibu bekerja vs ibu rumah tangga

Ini perang para mama yang paling banyak saya lihat.

Well, menjadi ibu bekerja merupakan pilihan, misalnya untuk aktualisasi diri, atau untuk mengaplikasikan ilmu yang didapat selama menempuh pendidikan akademis. Namun di banyak kondisi, menjadi ibu bekerja juga merupakan keharusan, karena sang mama harus membantu perekonomian keluarga karena satu dan lain hal hanya Mama yang tahu.

Yang terpenting, ibu bekerja mendapat dukungan pasangan dan keluarga besar saat menjalaninya.

Demikian pula menjadi ibu rumah tangga. Pasti ada alasan-alasan yang kuat di baliknya. Memberi ASI Eksklusif tanpa tekanan pekerjaan, ingin mendampingi anak selama golden age, belum bisa mendapatkan babysitter atau ART yang dipercaya, atau nggak dapat izin dari suami untuk bekejra.

Alasan-alasan yang sangat personal dan tidak bisa dipaksakan pada keluarga atau orang lain.

Menjadi seorang mama adalah perjalanan panjang yang sangat pribadi. Jika Mama mendapatkan perlakuan atau komentar diskriminatif, maka Mama tak perlulah untuk membalas menghujat, atau menganggap diri paling benar maupun menjadi rendah diri. Karena pengasuhan anak itu sebenarnya nggak ada hubungannya dengan status Mama sebagai ibu bekerja ataupun ibu rumah tangga.

Permasalahan pada anak adalah permasalahan yang sangat kompleks. Jika terjadi masalah pada anak, bukan soal ketidakhadiran seorang mama di sampingnya saja.

Setelah kita menjadi seorang mama, bukan berarti harus berkompetisi menjadi mama yang paling baik, paling sempurna, paling sukses asuhannya. Akan lebih baik jika fokus saja pada pendekatan hubungan antara Mama dan anak-anak, sehingga interaksi kita makin berkualitas dengan mereka.


2. Mama menyusui eksklusif vs Mama yang tidak menyusui eksklusif

Kubu Mama menyusui eksklusif:

Saya heran, kok bisa ya ada mama yang nggak mau menyusui bayinya? Bukankah anak kita adalah anak kita, bukan ‘anak sapi’?

Kubu Mama tidak menyusui eksklusif:

Bayi saya memang ada indikasi sufor sejak lahir, so what? Yang penting anaknya kenyang dan sehat!


Perang para mama: ASI Eksklusif vs susu formula

Baik Mama yang menyusui secara eksklusif maupun yang tidak, keduanya sama-sama berjuang untuk memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Tak perlu saling menghujat atau merasa yang paling benar.

Mama yang memberikan ASI eksklusif tak perlu merasa di atas angin. Mereka harus bisa memahami kondisi mama yang tidak menyusui secara eksklusif, karena setiap orang punya alasan kuat dan mereka tak berkewajiban untuk menjelaskannya. Yang pasti, alasan tersebut pasti juga sudah sepengetahuan suami dan keluarganya kan? Mereka juga tak jarang telah melakukan konsultasi ke dokter untuk memberikan sufor. Akan lebih baik, jika Mama memberikan dukungan dan keyakinan pada mereka agar tumbuh kepercayaan dirinya. Kalaupun tidak bisa mendukung, tak perlu mencela apalah nge-bully.

Sebaliknya, Mama yang tidak memberikan ASI Eksklusif juga nggak perlu merasa sedih. Yakinlah bahwa Mama telah memberikan yang terbaik bagi si kecil.


3. Mama pro imunisasi vs Mama antivaksin

Kubu Mama pro imunisasi:

Nggak ngerti dengan jalan pikiran mama-mama yang antivaksin. Alasan nggak halal kan sudah dijawab. Alasan autis juga sudah dijelaskan. Alasan apa lagi sih? Apa mereka nggak kasihan anak-anak terancam penyakit begitu?

Kubu Mama antivaksin:

Baru 3 vaksin yang halal! Nggak masuk akal, menyuntikkan nanah ke dalam tubuh anak kecil, bisa meningkatkan kesehatannya. Bukannya badan itu punya cara pertahanan sendiri yang mana tergantung pada vitalitas manusia?



Perang para mama: pro imunisasi vs antivaksin. Image via Blinded by the Light


Balik lagi, Ma. Setiap orangtua memiliki pilihan masing-masing untuk mengupayakan tumbuh kembang optimal si kecil. Termasuk urusan vaksin dan imunisasi ini. Nggak perlulah kita bersikap sinis dengan pilihan pribadi orang lain untuk memberi ataupun tidak memberi vaksin.

Akan lebih baik bagi Mama, baik Mama pro ataupun kontra vaksinasi, untuk menggali informasi yang lebih valid dan lebih jauh lagi. Karena bicara tanpa bukti ilmiah, bisa membuat pihak-pihak tertentu tersinggung.

Mama pro vaksin akan lebih baik berpendapat berdasarkan fakta dan data yang akurat dari sumber-sumber yang terpercaya, misalnya seperti data dari IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia), atau WHO. Sedangkan Mama antivaksin ada baiknya juga membaca lebih teliti mengenai peraturan Menteri Kesehatan RI No. 42 tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Imunisasi, yang menyebutkan bahwa imunisasi dasar merupakan hak anak yang dilindungi oleh negara.


4. Mama yang gemar mengikutkan anak les vs mama yang tak setuju anak les

Kubu Mama yang gemar mengikutkan anak les:

Les minat sedari kecil, supaya energinya tersalurkan ke hal yang baik, dan akan baik juga bagi anak-anak untuk mengenali passion dan potensinya sejak kecil supaya lebih sukses saat dewasa nanti.

Kubu Mama yang tak setuju anak les:

Dunia anak-anak itu bermain! Bukan les ini dan itu sampai anak-anak kecapekan sendiri. Kursus dan les hanya mengekang kebebasan anak-anak. Demi gengsi orangtua, kenikmatan anak-anak bermain terampas. Apa sih yang dicari oleh para orangtua itu?



Perang para mama: sekolah vs homeschooling

Setiap anak mempunyai kapasitas masing-masing. Ada anak yang mempunyai kemampuan belajar dengan cepat, ada pula yang tidak. Ada anak yang memang nyantai dan suka bermain, ada pula jenis anak high achiever yang artinya dia suka belajar macam-macam untuk selalu berprestasi.

Sebagai orangtua, sebaiknya kita bijaksana dalam menyikapi kelebihan dan kekurangan setiap anak. Nggak perlu membandingkan anak Mama dengan anak orang lain. Kebutuhan setiap anak berbeda. Akan lebih baik jika Mama fokus saja pada anak Mama sendiri, dan kenali kebutuhannya. Jika memang anak Mama butuh penyaluran minat, maka pertimbangkan berbagai solusi dan pilihannya. Jika anak Mama masih suka punya waktu bermain lebih, tak ada salahnya juga mengajaknya bermain sambil belajar ini itu, sambil kita berusaha menggali potensinya yang lain.

Biarkan saja anak-anak berproses secara alami menurut jalannya masing-masing, karena merekalah yang kelak akan menjalani kehidupan mereka.


Masih banyak lagi hal-hal yang di-'perang'-kan oleh para mama ini, dan kadang sudah mencapai tahap yang memprihatinkan dengan adanya saling tunjuk dan hujat.

Mengapa kita nggak saling support saja? Seperti halnya para mama yang tergabung dalam Connecticut Working Moms yang juga gerah akan adanya perang para mama ini.

Check out for more messages yang dibawa oleh para mama dari Connecticut Working Moms untuk menghentikan perang para mama, perang tiada ujung namun nggak ada manfaatnya ini.


Perang para mama: melahirkan normal vs melahirkan secara caesar



Perang para mama: tentang penerapan pendidikan agama


Perang para mama: co-sleeping vs tidur terpisah



Perang para mama: organic food vs instant



Perang para mama: pospak vs clodi




Perang para mama: without depression vs depressed new mom


Berbeda pendapat itu biasa. Tapi akan lebih baik jika kita juga punya etika sehingga tak mudah terprovokasi. Saat punya kesempatan untuk mengemukakan pendapat, pilihlah kata dan bahasa yang normatif, sopan, nggak menyinggung perasaan, serta berdasarkan fakta dan data yang akurat.




Omong pedas di media sosial hanya akan menuai pengaruh buruk bagi diri sendiri, Ma. Misalnya imej Mama jadi kurang baik, bahkan jadi putus hubungan pertemanan. Kan sayang kita jadi menciptakan musuh, padahal sebenarnya tak perlu?

So, let's stop mom's war, perang para mama yang tak memberi manfaat ini.

Mari kita fokus saja pada pengasuhan anak masing-masing yang sehat dan bahagia.


Seluruh foto diambil dari website Connecticut Working Mom, kecuali image proimunisasi vs antivaksin.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Perang Para Mama, Perang Abadi - Kapan Akan Berakhir? Apa yang Mama Dapatkan?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Carolina Ratri | @carolinaratri

An INFJ-T sarcastic sagittarian Managing Editor of Rocking Mama. Deeply passionate about writings, graphic designs, hand-drawings, and hand-letterings. Read her journal at www.CarolinaRatri.com

Silahkan login untuk memberi komentar