Menjadi Ibu yang Baik, Barangkali Saya Bisa. Menjadi Ibu yang Sempurna? Tidak, Saya Tidak Mampu!

Menjadi Ibu yang Baik, Barangkali Saya Bisa. Menjadi Ibu yang Sempurna? Tidak, Saya Tidak Mampu!

1.6K
Setiap mama adalah ibu yang baik, meski tak berhasil menerapkan teori parenting yang didapatkannya. Berhentilah berusaha menjadi ibu yang sempurna, dan nikmati hidupmu!

Seringkali saya bersyukur, Ma bisa hidup di era sekarang. Di mana era teknologi sudah lebih maju, ilmu juga jauh lebih berkembang. Tapi tidak juga memungkiri, setidaknya bagi saya pribadi, kebanyakan informasi sering membuat saya jadi merasa serba salah. Bahwa untuk menjadi ibu yang baik itu saya harus begini, begitu. Tidak boleh begini, begitu. Harusnya seperti ini, biar itu.

Wuah! Akibatnya, saya sering merasa ditekan. Kalau suami saya pernah bilang, "Too much information, will kill you!"

Whuaaa, benarkah itu, Ma?

Misalnya nih, sebagai tuntutan untuk menjadi ibu yang baik, saya pun banyak membaca dan rajin berburu ilmu pengasuhan anak atau parenting.

Segala macam informasi mengenai anak, sedari mulai awal (menjaga) kehamilan hingga si kecil sudah mulai bertumbuh, mulai dari pengasuhan balita sampai dewasa, semua saya baca dan pelajari. Yah, wajar kan, Ma? Saya nggak mau salah mengasuh anak-anak. Wajarlah jika saya ingin menjadi ibu yang baik kan? Dan semua informasi tersebut bisa dengan mudah saya dapatkan dari berbagai buku dan artikel yang tersebar di internet.

Sebenarnya kan bagus ya. Membuat para ibu muda seperti saya lebih dimudahkan. Tapi akhirnya, saya juga jadi memiliki idealisme sendiri karena ilmu yang saya baca. Simpelnya begini, saya seringkali merasa tidak ingin melanggar ilmu-ilmu yang sudah saya baca. Alias dengan kata lain, saya ingin menjadi ibu yang baik, ibu yang sempurna.

Yup, that is the point! Perfect mom!


Situasi dan kondisi yang berbeda


Sayangnya, terkadang realita dan teori itu bisa jadi dua hal yang jauh berbeda. Belum lagi ada juga mitos-mitos yang ditambahkan oleh orang-orang di sekitar kita.

Banyak hal atau mitos masih dipercayai oleh beberapa pihak yang sudah tak sesuai lagi dengan perkembangan zaman, masih saja dipertahankan. Misalnya, saat hamil saya nggak boleh makan ini itu, karena bisa menyebabkan ini dan itu. Padahal, Ma, hal tersebut sudah di-update oleh para peneliti bahwa nggak bakalan memengaruhi kehamilan saya.

Contoh lain lagi, saat anak baru lahir dan ASI belum keluar, banyak orangtua menyuruh kita memberikan susu formula pada si baby. Padahal sudah ada penelitian pula, bahwa bayi bisa bertahan beberapa hari dalam kondisi kekurangan ASI. Tinggal ibunya saja yang memang harus sabar berusaha memperlancar ASI-nya.

Ah, pokoknya masih banyak lagi deh, kalau dijabarkan, Ma. Dan saat kita nggak menuruti semuanya, kita pun dibilang gagal menjadi ibu yang baik.

Hingga kemudian, saya pribadi pun mengalami kesulitan saat ingin menerapkan ilmu-ilmu perawatan bayi, pengasuhan anak dan lain-lain yang sudah saya baca.

Belum lagi dengan situasi dan kondisi pada kenyataan sering berbeda. Penginnya sih, anak nggak sering-sering dipakaikan popok sekali pakai, tapi apa daya cucian malah jadi banyak. Akibatnya, tenaga pun terkuras dan malah stres dibuatnya. Pekerjaan rumah sudah terlampau banyak yang harus diselesaikan.

Pengennya sih memberi anak MPASI rumahan, tapi kok ya lama-lama mati ide, mati gaya, bingung mau menu apa lagi, akhirnya beli sajalah yang instan dan praktis.

Dan seterusnya. Yap, akhirnya terkikislah ilmu parenting kita.

Lalu? Ya, kita pun merasa gagal menjadi ibu yang baik.


Idealis?



Well, nggak salah kan ya, kalau kita pengin menjadi ibu yang baik? Dan untuk menjadi ibu yang baik, ya kita harus idealis.

Yah, mungkin memang saya si ibu muda yang terlalu idealis. Ingin menerapkan semua ilmu yang sudah saya baca. Hasilnya, saya merasa ingin menjadi ibu yang sempurna. Sebab ilmu-ilmu itu terlihat sangat ideal jika diterapkan.

Ya memang sih, sepertinya kalau semua ilmu itu bisa saya terapkan, anak saya dijamin akan tumbuh dengan sangat sehat, sangat baik, sangat terpuji, dan sangat-sangat sempurna.

Tapi kembali lagi, bagaimana jika kondisi pada kenyataannya berbeda? Diuji dengan berbagai hal yang benar-benar menguras tenaga, pikiran dan kesabaran seperti tadi? Mulai dari keadaan kita sendiri, campur tangan dan nasihat orangtua, tuntutan lingkungan, sampai perbedaan pola asuh dengan suami kita sendiri.

Akhirnya, saya bisa bilang, bahwa rasanya kita tidak mungkin menjadi orangtua yang sangat amat sempurna. Hiks.


Berhenti berpikir untuk menjadi sempurna


Saya pernah baca sebuah anekdot ringan di kalangan ibu-ibu, bahwa ilmu parenting itu buyar saat sudah ada anak dan mengalami sendiri menjadi ibu.

Yah, mungkin itu ada benarnya. Ilmu (baca: teori) dengan kenyataan bisa jadi nggak sejalan. Tidak jarang kita akan menemui berbagai rintangan untuk menerapkannya. Maka itu, sampai sini mungkin jalan satu-satunya adalah berhenti berpikir dan berkeinginan untuk menjadi ibu yang sempurna.

Namun, apakah kemudian kita nggak bisa menjadi ibu yang baik? Lalu, apakah semua ilmu dan teori parenting itu sia-sia saja kita pelajari?

Nggak gitu juga, Ma. Karena membaca dan mempelajari ilmu apa pun itu tidak ada yang percuma, termasuk ilmu dan teori parenting. Dan sesulit apa pun jika diterapkan, ilmu tetap bisa dan perlu menjadi pijakan. Setidaknya sebagai pegangan kita saat menemui situasi yang sama dengan yang dijabarkan dalam teori tersebut. Praktiknya? Tentulah semua tergantung situasi yang kita hadapi masing-masing. Kita perlu berpikir fleksibel mengenai perbedaan teori dan kenyataan ini. Namun, setidaknya kita sudah ada bekal bukan?

Namun, barangkali kita tidak perlu menjadi ibu yang terlalu idealis. Sebab pada kenyataannya kondisi setiap orang tetaplah berbeda. Bukan nggak mungkin pula, para penulis dan para pencetus teori parenting itu pun sebenarnya juga mengalami banyak kendala saat harus menerapkan apa yang ditulisnya.

Yah, gitu deh, Ma. Saya yakin sekali bahwa di luar sana pasti banyak ibu yang punya masalah yang sama dengan saya di sini. Kerepotan memraktikkan teori parenting yang dipelajari, dan kemudian merasa gagal menjadi ibu yang baik. Don't worry, Mama, you're not alone. Kita sama-sama menghadapi tantangan dan masalah yang sama, meskipun mungkin jenisnya berbeda-beda.

Don't worry, and don't think about you're failing as a mom!

Kita harus lebih santai. Nggak perlu terlalu menanggapi serius segala hal. Misalnya jika kita tidak bisa menerapkan teori parenting seperti seharusnya, itu nggak akan membuat kita tak menjadi ibu yang baik. Nggak ada ibu yang sempurna, so berhentilah berusaha menjadi sempurna.

Menurut saya, selama anak kita bertumbuh dan dirawat hingga berkembang dengan dan akhlaknya baik, setiap ibu sudah menjadi seorang ibu yang baik. Iya kan, Ma? Begitu pula dengan sang ayah. Selama ayah memelihara kedekatan pada anaknya, ya berarti sudah menjadi ayah yang baik.

Karena sebenarnya, pelajaran hidup sesungguhnya adalah saat kita mendidik anak secara langsung. Yap, anaklah yang akan mengajarkan kita untuk menjadi orangtua yang lebih bijak.

So, stay happy, Mama!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Menjadi Ibu yang Baik, Barangkali Saya Bisa. Menjadi Ibu yang Sempurna? Tidak, Saya Tidak Mampu!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Ade Delina Putri | @adedelinaputri

Blogger, stay at home mom, and bookish

Silahkan login untuk memberi komentar