Menjadi Ibu Rumah Tangga adalah Privilage - Andaikan Ada Sekolah Khusus untuk Mempersiapkannya

Menjadi Ibu Rumah Tangga adalah Privilage - Andaikan Ada Sekolah Khusus untuk Mempersiapkannya

2.9K
Peran ibu rumah tangga sering diremehkan. Padahal tanpa adanya ibu rumah tangga, keluarga dan rumah pasti akan kacau.

Pernahkah Mama bertanya pada anak perempuan Mama, mengenai cita-citanya? Apa jawabannya? Dokter? Polwan? Guru? Astronot? Adakah yang menjawab, menjadi ibu rumah tangga?

Sepertinya jarang, atau bahkan nggak ada.

Ya, memang ya. Sampai sekarang jarang ada anak perempuan saya dengar cita-citanya "menikah", "menjadi istri orang", ataupun "menjadi ibu rumah tangga".

Saya baru sekali pernah mendengar anak remaja perempuan menjawab "Menjadi ibu rumah tangga." saat ditanya apa cita-citanya, dan itu pun kemudian disambut dengan gelak tawa dan dianggap lucu. Nyeleneh.

Hmmm ... kira-kira bagaimana perasaan Mama jika anak Mama yang menjawab demikian? Apakah akan dianggap lucu juga? Atau kemudian Mama bahkan merasa waswas, akan masa depannya nanti? Atau, biasa aja?

Pada akhirnya, ada pernyataan yang kemudian berkembang di benak saya. Cita-cita itu apa sih? Sebuah impian? Atau, keinginan yang ingin diwujudkan? Jika demikian, apa yang salah dari jawaban remaja perempuan tadi mengenai cita-citanya menjadi ibu rumah tangga? Apanya yang lucu?



Well, bagi saya, menjadi ibu rumah tangga sebenarnya bukan lagi impian atau cita-cita memang. Menjadi ibu rumah tangga merupakan kodrat bagi perempuan, apalagi di Indonesia. Maka, sudah seharusnya sudah dipersiapkan sejak kecil, karena itulah karier terlama untuk perempuan.

Kita bisa berprofesi sebagai guru, dokter, akuntan, pengacara, engineer, psikolog, you name it, Mama. Namun, pastilah pada akhirnya kita akan menjalani juga "karier" sebagai ibu rumah tangga.

Dan saya mengakui, bahwa saya terlambat menyadarinya.

Sejak kecil, saya sudah dididik untuk mencapai cita-cita secara akademik. Saya selalu menyebutkan semua pekerjaan yang dijalani secara profesional, seperti guru, dokter, dan sebagainya. Namun saya lupa, bahwa saya juga akan berprofesi sebagai istri dan ibu rumah tangga kelak, meski saya memang bercita-cita ingin berkeluarga. Saya lupa menempuh pendidikan persiapan menjadi istri dan ibu.

Sehingga ketika menikah, bisalah ditebak. Banyak hal yang mungkin mudah bagi orang lain, terasa sulit bagi saya. Saya yang terbiasa menangani data, internal audit, analisis trend penjualan, kontrol dan lain-lain, ternyata tak dapat menggaransi bahwa saya bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik.

Dan, Mama pasti juga tahu, bahwa masalah terbesar ibu rumah tangga yang juga membangun karier di luar rumah adalah soal manajemen waktu dan toleransi.

Yes, Mama, sulit sekali awalnya membiasakan diri untuk melawan ego, membagi pikiran, waktu, dan fokus.

Menjadi ibu rumah tangga membutuhkan fokus dan tenaga lebih, agar seluruh urusan bisa perfect. Seorang ibu rumah tangga harus memiliki banyak kualifikasi yang lebih rumit bahkan dari seorang operational manager!



Seorang ibu rumah tangga harus menguasai yang namanya control budget, menjadi finansial advisor, juga guru les anak. Plus tukang ojek dan koki yang menguasai beragam menu makanan, camilan, dan minuman yang bisa memenuhi selera semua anggota keluarga. Kita juga menjadi perawat keluarga yang harus hafal merek obat, dan jam praktik dokter anak.

Dengan memiliki seorang ibu rumah tangga yang bisa diandalkan di dalam rumah, sebuah keluarga sudah bisa melakukan banyak penghematan biaya. Mari, coba kita hitung per bulannya!

  1. Gaji ART untuk memasak, beberes rumah, mencuci baju dan setrika: Rp 1.400.000
  2. Pengasuh anak: Rp 1.200.000
  3. Menu makan untuk 4 orang anggota keluarga: Rp 15.000 x 4 x 3 kali x 30 hari = Rp 5.400.000
  4. Ongkos ojek langganan antar jemput anak sekolah: Rp 15.000 x 26 = Rp 360.000

Coba dijumlah, Ma! Rp 8.600.000!

Wow, biaya sebesar itu bisa tergantikan oleh kehadiran seorang ibu rumah tangga dalam rumah!

Siapa yang bilang ibu rumah tangga tidak berpenghasilan? *cium mesra para mama*

Seperti halnya keterampilan akademik, sebenarnya para perempuan juga membutuhkan pelatihan khusus untuk dapat mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Memang sering kita dengar kalimat serupa begini, "Ah, ntar bisa pakai jasa ART, asal duit kita banyak. Makanya, sekolah yang pintar, biar nanti gampang nyari duit!".

But in fact, menjadi ibu rumah tangga itu bukan tentang uang. Ada kebahagiaan menyelinap di hati, ketika bekal makan siang suami habis, anak lahap dengan makanan kesukaannya, dan romantis banget rasanya saat mengajukan pertanyaan "Pengin makan apa, Pa?".

Itu menjadi motivasi tersendiri untuk saya, Ma. Semacam dendam positif, hingga kemudian saya berusaha belajar memasak, belajar mencintai pekerjaan rumah tangga, walaupun pada dasarnya i don't like it. Semua karena saya ingin, suatu hari nanti saya bisa mengatakan kepada anak perempuan saya, bahwa menjadi perempuan itu boleh saja hebat, boleh saja menjadi pemimpin, namun tetap harus tetap dicintai dan menjadi juara di rumah. Amin!

Karena dicintai oleh orang yang Mama cintai adalah kebahagiaan yang paling mudah dirasakan.



Namun pastinya, saya tidak mendiskreditkan para mama muda saat kini yang memilih tetap bekerja. Tentu saja sama hebatnya dengan para mama yang memilih tetap di rumah untuk mengurus anak dan suami. Pasti mereka semua juga berusaha semaksimal mungkin tetap total dalam mengurus keluarganya. Semua keputusan pastilah sudah didukung suami dan keluarga, bukan?

Tetap semangat ya, Ma, apa pun peran yang sedang Mama jalankan sekarang, baik sebagai ibu rumah tangga maupun sebagai ibu bekerja. Yakinlah, bahwa apa pun yang menjadi pilihan Mama, akan menjadi yang terbaik bagi keluarga.

Stay happy, Mama!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Menjadi Ibu Rumah Tangga adalah Privilage - Andaikan Ada Sekolah Khusus untuk Mempersiapkannya". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Linda PermataSari | @lindaps

Silahkan login untuk memberi komentar