Inilah 5 Alasan dari Para Pakar bahwa Metode Time Out Tidak Lagi Efektif dalam Penanaman Disiplin pada Anak!

Inilah 5 Alasan dari Para Pakar bahwa Metode Time Out Tidak Lagi Efektif dalam Penanaman Disiplin pada Anak!

2.8K
When you are a mother, you are never really alone in your thoughts. A mother always has to think twice, once for herself and once for her child. ~ Sophia Loren.
Mama masih ingat reality show Nanny 911?

Itu, lho, Ma, sebuah tayangan tentang bagaimana sebuah keluarga mengasuh anak-anak mereka yang berusia di bawah 10 tahun. Program ini pernah ditayangkan televisi nasional kita beberapa tahun lalu dan sempat booming kala itu.

Dalam tiap episodenya, Nanny 911 menghadirkan sebuah keluarga dengan anak lebih dari satu yang perilakunya terkadang sulit dikendalikan. Ketika para orangtua kewalahan atau tidak tahu lagi harus bagaimana mengatasi perilaku sang anak, maka mereka meminta bantuan salah satu nanny (pengasuh) dari tim Nanny 911. Nah, para nanny yang merupakan pengasuh terakreditasi itu nantinya akan menerapkan sejumlah pola asuh a la mereka yang dapat diadopsi oleh para orangtua tersebut.

Kalau Mama masih ingat juga, ada adegan di mana sang nanny menerapkan hukuman ringan kepada anak agar lebih disiplin. Salah satu metode yang diterapkan para nanny itu adalah metode time-out.

Jadi, metode time-out itu adalah metode di mana anak dibiarkan sendiri di suatu tempat yang telah disepakati bersama sebelumnya. Bisa di sudut dapur, di pojok kamar, atau di halaman sekalipun. Bahkan ada orangtua yang menyiapkan kursi khusus time-out, lho!

Time-out diberlakukan ketika anak dianggap sudah bertingkah melebihi batas, atau sangat sulit dikendalikan, atau melanggar peraturan yang telah disepakati bersama sebelumnya. Misalnya, gemar memukul adiknya, selalu marah-marah, hobi membanting apa saja saat sedang kesal, atau lari keluar rumah padahal depan rumah jalan raya. Selama masa time-out, orangtua diharapkan tidak berinteraksi dengan anak sama sekali. Meskipun anak menangis, berteriak, atau marah-marah, orangtua sebaiknya tetap tenang dan tidak merespon mereka.

Time-out diyakini sebagai salah satu metode pendisiplinan anak paling efektif. Metode ini direkomendasikan oleh banyak dokter spesialis anak dan pakar perkembangan anak mancanegara. Ide awalnya, sih, dengan time-out --yang biasanya berdurasi sekitar 5-15 menit itu-- anak bisa menyadari kesalahannya selama masa "menyendiri" tersebut.

Namun dalam perkembangannya, beberapa psikolog anak, psikiater, dokter anak, maupun pakar tumbuh kembang anak tidak sependapat dengan metode ini. Hukuman apa pun, termasuk time-out, justru dinilai dapat melukai anak, terutama secara psikologis. Metode ini dikhawatirkan akan memicu terjadinya trauma masa kecil pada anak.

Supaya lebih jelas, berikut lima alasan mengapa time-out dianggap tidak lagi efektif sebagai cara mengajarkan anak untuk disiplin.




1. 'Luka' akibat terisolasi hampir sama dengan luka akibat kekerasan fisik.

1. 'Luka' Akibat Terisolasi Hampir Sama Dengan Luka Akibat Kekerasan Fisik.  -


Ini adalah salah satu alasan utama mengapa time-out tidak lagi efektif untuk diterapkan. Majalah Time pernah mengulas masalah time-out dikaitkan dengan hasil riset terbaru tentang implikasi hubungan dan perkembangan otak. Hasilnya, hukuman semacam time-out dinilai justru menyakiti si kecil.

Berdasarkan penelitian UCLA Mindful Awareness Center tentang neuroplastisitis, pengalaman berulang (repeated experiences) dapat mengubah struktur fisik otak. Jika dilakukan scan otak, 'luka' akibat 'diisolasi' (diasingkan) --seperti diterapkan dalam metode time-out-- tampak sama dengan luka akibat kekerasan fisik (dalam hal aktivitas otak).

Disiplin itu tentang mengajarkan, bukan menghukum. Dan time-out bukanlah solusi. Mama harus pintar-pintar mencari cara mengajari si kecil bertingkah laku yang baik, namun sekali lagi perlu diingat, bukan dengan hukuman! Ini sangat penting untuk perkembangan anak ke depannya.

Dalam kebanyakan kasus, anak justru makin tertekan karena time-out, lho, Ma! Perasaan terisolasi (terasing) akan menjadi pengalaman tidak mengenakkan yang akan terus membekas, apalagi jika hal ini dilakukan berulang kali. Tampaknya sepele, tapi sebenarnya dampak time-out terhadap psikologis anak cukup besar. Bahkan untuk time-out dengan lembut dan dengan loving manner sekalipun.

Dengan time-out, anak justru belajar bahwa ketika dia berbuat kesalahan --atau ketika dia berada dalam masa-masa sulit-- mereka dipaksa untuk menyendiri dan ditolak orangtua. Lebih jauh lagi, anak akan beranggapan orangtua hanya akan tertarik untuk bersamanya jika ia telah mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. Dan itu tidak baik untuk perkembangan otak maupun psikologisnya. Setuju, Ma?

 


2. Time-out sesungguhnya untuk orangtua, bukan anak.

2. Time-out Sesungguhnya Untuk Orangtua, Bukan Anak. -


Jujur, deh, Ma, ketika Mama sangat kesal ketika anak berbuat kesalahan, Mama rasanya ingin teriak dan marah-marah ke mereka, kan? Tapi terkadang sebagai orangtua, kita tidak ingin itu terjadi. Nah, dalam kondisi seperti ini, sebenarnya kitalah, para orangtua, yang membutuhkan time-out, bukan anak.

Alan Kazdin, Direktur Yale Parenting Center mengatakan, hukuman berupa time-out pada anak bisa jadi membuat Mama atau Papa merasa lebih baik dan lebih tenang (karena tidak berinteraksi dengan anak). Tapi sesungguhnya, hukuman ini tidak terlalu berguna untuk mengubah perilaku negatif anak. Jadi sebenarnya siapa yang perlu time-out? Si kecil atau Mama? Jawab dengan jujur, yuk!

Dalam kondisi lelah dan anak sulit diberi tahu, kemarahan Mama bisa jadi memuncak sampai ke ubun-ubun. Di sinilah Mama dihadapkan pada dua pilihan: berteriak mengomeli anak atau time-out. Mama pilih yang mana? Opsi yang kedua? Bagus! 

Tapi tunggu dulu, time-out ini bukan buat si kecil, ya, melainkan untuk Mama sendiri. Demi kebaikan bersama, lebih baik Mama take a break dulu, deh. Begitu Mama dan si kecil sudah tenang, Mama bisa mulai mendekatinya lagi untuk berdialog.


Baca juga: Awas! Waspadai 5 Dampak Buruk Kebiasaan Marah dalam Keluarga yang Dapat Memengaruhi Pertumbuhan si Kecil Ini!



3. Time-out tidak mengubah perilaku anak.

3. Time-out Tidak Mengubah Perilaku Anak. -


Masih menurut Kazdin, hukuman sulit untuk mengubah perilaku anak. Ia bahkan menilai hal ini justru makin memicu anak untuk melakukan tindakan serupa. 

Memang benar, Ma, tidak semua anak yang kerap berlaku kasar pada orang lain adalah produk dari orangtua yang juga kasar. Namun di sisi lain, ungkap Kazdin, perilaku anak dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, salah satunya modeling (menirukan). Modeling di mata Kazdin berdampak besar terhadap perilaku anak namun hal ini kerap tidak disadari para orangtua. Modeling biasanya akan mempengaruhi perilaku anak hingga dewasa.

Modeling ini termasuk tentang cara mendisiplinkan anak, ya, Ma! Jika anak kerap mendapat hukuman dari orangtua, biasanya anak akan menerapkan hal ini pada kawan-kawannya. Jika orangtua kerap mengomel, maka besar kemungkinan anak akan gemar mengomeli teman-temannya. Semakin sering orangtua memukul anak, maka anak semakin suka memukul orang lain. Mama tidak ingin hal ini terjadi pada si kecil, bukan?

Tentang hukuman yang sulit mengubah perilaku anak Kazdin mencontohkan, seorang perokok aktif ketika diberi nasihat untuk berhenti merokok tentu tidak akan serta-merta berhenti seraya berkata penuh rasa terima kasih seperti ini, bukan? "Oh, begitu, ya? Ternyata merokok buruk, ya, untuk kesehatanku. Kenapa nggak bilang dari dulu, sih?" 

Mereka butuh waktu untuk mencerna nasihat tersebut, atau bisa jadi malah menolaknya dan memilih tetap merokok setiap hari.

Sama halnya dengan time-out. Mungkin maksud Mama baik, mencoba menyampaikan pesan ke anak lewat metode ini. Mama mencoba mengajarkan pada anak jika anak berperilaku tidak baik maka tidak ada seorang pun yang mau bermain bersamanya. Benar ini dapat membantu anak berpikir, namun --seperti diungkapkan Kazdin-- tidak mengubah perilaku anak. 

Apalagi kebanyakan time-out diiringi teriakan dan sentuhan kasar orangtua yang memang sedang emosional. Hal ini makin menyulitkan maksud baik Mama-Papa untuk mengubah perilaku negatif anak. Sekali lagi, menghukum bukanlah solusi. Bahkan Kazdin menegaskan, hukuman selembut apa pun tidak akan berhasil. Percaya, deh, Ma!


Baca juga: 5 Kebiasaan Mama yang Tidak Sehat Ini Jangan Sampai Menular Pada si Kecil ya, Ma!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Inilah 5 Alasan dari Para Pakar bahwa Metode Time Out Tidak Lagi Efektif dalam Penanaman Disiplin pada Anak!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Dini Zaki DNZ | @dinizakidnz

Seorang ibu rumah tangga yang jatuh cinta luar biasa dengan dunia tulis-menulis.

Silahkan login untuk memberi komentar