Manajemen Rumah Tangga Tanpa ART - Rempong? Sama Sekali Nggak Tuh!

Manajemen Rumah Tangga Tanpa ART - Rempong? Sama Sekali Nggak Tuh!

1.9K
Rumah tangga tanpa ART? Wah, kebayangkah repotnya? Padahal kalau sudah dijalani, rumah tangga tanpa ART itu malah jauh lebih simpel lho, dan bahkan bermanfaat bagi tumbuh kembang anak-anak!

Yes, sudah 2 tahun ini, kami sekeluarga hidup tanpa bantuan Asisten Rumah Tangga atau ART. Si Mbak yang sudah membantu kami selama bertahun-tahun, mengundurkan diri setelah Lebaran sekitar 3 tahun yang lalu. Dan karena pertimbangan ini dan itu, kami pun memutuskan untuk menjalani hidup rumah tangga tanpa ART.

Bagaimana rasanya?

Hmmm ... semua normal tuh! Semua berjalan apa adanya, hanya bedanya, nggak ada si Mbak. Sudah, itu saja, Ma. Nggak seburuk yang pernah kita bayangkan, nggak serepot perkiraan kita sebelumnya.

Seisi rumah juga masih bisa makan makanan bergizi dan teratur, padahal cooking is not my thing. Baju-baju masih bisa rapi tertata di lemari. Kondisi rumah nggak terlalu berantakan, masih nyaman ditinggali seperti biasanya.

Hebat nggak tuh?

Bagaimana kami melakukannya?

Sebenarnya sih cukup sederhana.


7 Hal yang harus dipersiapkan untuk sukses manajemen rumah tangga tanpa ART


Persiapan mental


Ini penting ya, Ma, untuk dilakukan pertama kali kalau Mama akhirnya juga memutuskan untuk menjalani rumah tangga tanpa ART, karena berkaitan dengan sikap dan mindset kita sendiri, dan seluruh anggota keluarga.

Setelah selama bertahun-tahun ada yang melayani, tiba-tiba kita harus melakukan segala sesuatu sendiri. Pastinya itu bukan hal yang mudah. Nggak hanya bagi saya, selaku ibu rumah tangga, namun juga berlaku untuk seisi rumah.

Termasuk dalam hal ini adalah memberikan pengertian kepada anak-anak bahwa situasi di rumah akan berubah dan kami, orangtuanya, akan sangat membutuhkan partisipasi mereka.


Pembagian tugas


Image via Pinterest

Menjalani rumah tangga tanpa ART berarti ada tugas-tugas domestik yang tadinya diurus oleh ART, sekarang menjadi tanggung jawab kami semua. So, semua anggota keluarga haruslah mendapat tugas tanpa terkecuali, termasuk Papa. Pembagian tugas ini tentunya juga harus disesuaikan dengan situasi, kondisi dan usia ya, Ma.

Sebagai ilustrasi, pembagian tugas di rumah kami adalah sebagai berikut.

Karena papanya anak-anak senang bermain air, maka tugas utama si Papa adalah menyiram tanaman dan mencuci mobil. Sedangkan saya, sebagai orang yang paling bawel di rumah soal kerapihan, didaulat untuk tugas membersihkan rumah dan memasak.

Dalam hal beberes rumah, tugas saya adalah menyapu dan kemudian, si sulung bertanggung jawab untuk mengepel. Dia juga punya kewajiban mencuci piring-piring seusai makan.

Si kecil yang belum lagi 10 tahun bagaimana? Tetap dapat tugas dong, yang ringan-ringan saja. Dia bertugas membuang sampah, dan membantu saya saat sedang beres-beres.

Untuk kamar tidur menjadi tanggung jawab pemilik masing-masing.


Mencari bantuan



Iyalah, Ma, karena kita kan bukan wonder woman. Kita punya keterbatasan juga kan? So, dalam manajemen rumah tangga tanpa ART yang kami jalani ini, kami coba untuk mencari bala bantuan untuk beberapa tugas yang menyulitkan.

Ada 2 hal yang harus kami carikan bantuan dari pihak luar, yaitu untuk laundry dan antar jemput anak sekolah.

Dari semua pekerjaan domestik yang ada, mencuci dan menyetrika adalah dua pekerjaan yang paling berat bagi saya, karena makan waktu dan tenaga yang cukup besar. So, hanya jenis pakaian tertentu yang membutuhkan perlakuan khusus saja yang kami tangani sendiri. Selebihnya, angkut ke laundry kiloan.

Tugas kedua yang harus dicarikan bantuan dari orang luar adalah soal antar jemput anak sekolah dan les. Alhamdulillah, ada tukang ojek langganan yang sangat bisa diandalkan. Untungnya lagi, si tukang ojek ini cukup ringan tangan juga. Kalau lagi nggak ada "trayek", maka dia akan dengan senang hati membantu tugas lain jika diminta. Misalnya seperti merapikan kebun rumah saya yang nggak seberapa itu.

Nah, maka, selesai sudah semua pembagian tugas domestik ini.


Groceries Day


Well, urusan belanja dalam manajemen rumah tangga tanpa ART ini ternyata time consuming juga, Ma. Padahal kelihatannya sepele ya. Supaya tidak bentrok dengan jadwal lainnya, maka acara belanja kebutuhan dapur atau groceries day ini saya jatahkan sekali dalam seminggu saja.

Agar belanjanya nggak gagal fokus ke mana-mana yang nggak perlu dan nggak penting serta supaya lebih terarah, maka daftar belanjaan pun dikalkulasi berdasarkan kebutuhan memasak satu minggu ke depan. Selain membuat saya tidak wira-wiri bolak-balik ke pasar, dengan cara seperti ini, bahan-bahan dapur yang dibeli juga disesuaikan dengan kebutuhan rencana menu yang akan dihidangkan.


Manajemen Dapur


Nah, karena saya belanja hanya seminggu sekali, bisa dibilang saya sudah punya punya rencana akan memasak apa dalam seminggu ke depan. Ini nggak menutup kemungkinan berganti menu selama persediaan ada.

Karena kemampuan memasak diri sendiri yang terbatas plus kesibukan yang lain, maka resep masakan yang praktis dan cepat menjadi andalan saya. Kalaupun ada jenis resep yang perlu persiapan lebih, biasanya sudah saya antisipasi sebelumnya. Misalnya begini, jika menu sarapan pagi yang diinginkan anak-anak adalah nasi goreng, maka malam ini saya giling bumbunya agar besok pagi tinggal mengolahnya saja.

Setelah melakoni rumah tangga tanpa ART, khususnya soal manajemen dapur, ternyata urusan bumbu ini juga nggak bisa diabaikan sama sekali. Tahu sendirilah ya, Ma, masakan rumahan Indonesia itu kaya akan bumbu, dan bawang termasuk bumbu yang selalu ada di semua resep. Daaan ... pekerjaan mengupas bawang ini juga time consuming banget! Pfffttt! Tapi nggak boleh kurang akal! Untuk menyiasatinya, saya mengupas sejumlah tertentu bawang, lalu disimpan dalam wadah kedap udara. Memang sih, saya juga tahu, bahwa bawang yang sudah dikupas lama akan mengurangi aroma kesedapan makanan. Tapi oh, for the sake of practicality, nggak apa-apa deh! Berkorban sedikit untuk aromanya, yang penting bawang siap pakai dan anak-anak pun lahap makannya.


Bersahabat dengan teknologi


Teknologi di sini tidak sebatas pada kulkas, rice cooker atau microwave saja lho, Ma. Tapi juga alat-alat masak seperti toaster, hand blender dan panci tekan pun, harus dioptimalkan penggunaannya.

Terus terang, ada beberapa barang yang memang saya batasi penggunaannya ketika kami masih dibantu ART, karena masalah handling care. You know-lah, Ma, nggak jarang ART itu kurang hati-hati dalam menggunakan barang-barang tersebut walaupun sudah diperingatkan berkali-kali.

Nah, sekarang, setelah menjalani rumah tangga tanpa ART, saya pun mengeluarkan dan memanfaatkan semua peralatan masak super saya tersebut.


Manfaatkan layanan makan delivery order


Karena banyak alasan, misalnya karena bosan dengan masakan rumahan atau jadwal aktivitas saya yang “kurang ramah”, maka terkadang kami pun memilih makan di luar.

Mengingat bahwa makanan dari luar ini akan menjadi makanan pengganti makan selayaknya di rumah, maka selain faktor rasa, saya tetap memperhatikan unsur asupan gizi seperti kandungan protein dan serat. Dengan kata lain, saya menghindari junk food sebisa mungkin.

Restoran atau rumah makan yang menyediakan menu rumahan adalah tempat yang biasa saya sasar. Biasanya kami melakukan test food terlebih dahulu. Caranya? Tentu dengan dine in alias makan di tempat. Jika rasa makanannya sesuai dengan lidah kami, maka kriteria berikutnya adalah apakah mereka menerima pesan layan antar? Jika YA, sudah pasti nomornya tercatat dalam database phone book kami.


Dua tahun lebih menjalani rumah tangga tanpa ART, saya dan suami justru merasakan banyak manfaatnya, terutama perubahan sikap pada anak-anak. Tugas rumah yang kami jalankan sedikit banyak berpengaruh pada sikap mereka.

Yang tadinya tinggal “nyuruh” si Mbak, sekarang semua harus mereka lakukan sendiri. Menyadari tugas masing-masing, ternyata bsia menjadi pelajaran dasar akan rasa tanggung-jawab. Walaupun masih kerap harus diingatkan, sejauh ini masih dalam kondisi yang wajar. Justru kehadiran kami sebagai orangtua bisa menjadi selayaknya alarm, nggak boleh bosan mengingatkan.

Terkadang aktivitas saya dan suami mengharuskan kami pulang larut, yang kemudian membuat anak-anak hanya berdua saja di rumah. Di saat-saat demikian, Si Sulung akan menyiapkan makan malam tidak hanya untuk dirinya saja, namun juga untuk Si Adik. Walau hanya ceplok telur, namun the willingness to prepare dinner for her little brother was a big leap.

Menurut para ahli psikologi anak, pekerjaan rumah memang bisa berfungsi sebagai survival education bagi anak-anak. Nggak hanya melatih kedisplinan, household chores juga akan dapat menumbuhkan keberanian dan sikap mandiri pada anak. Bagaimanapun, kelak mereka harus hidup sendiri atau tinggal di luar rumah kan, Ma? Di saat itulah mereka sudah terbiasa mengurus diri sendiri. At least they know how to cook a simple dish, know how to clean and so and so.



Si Adik yang tahun ini naik ke kelas 4 SD, sudah terlatih membereskan tempat tidurnya sendiri, dan bahkan sudah bisa mencuci piringnya sendiri sehabis makan. Termasuk juga dia sudah pintar memasukkan baju ke dalam lemarinya. Walau tidak serapi seperti yang saya ajarkan, tapi setidaknya dia sudah mau melakukannya. And it's a good thing!

Saya sendiri? Well, saya nggak bilang saya pintar memasak. Tapi makin ke sini, saya rasa keterampilan masak saya lebih baik. Everybody in the house says that the taste is getting better and better. Yay!

Rumah tangga tanpa ART adalah sebuah pilihan. Jika opsi itu yang diambil, maka keberhasilannya merupakan hasil kerja sama seluruh anggota keluarga. It is a team work’s effort.

Semangat!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Manajemen Rumah Tangga Tanpa ART - Rempong? Sama Sekali Nggak Tuh!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Ratna Amalia | @ratnaamalia

an independence project manager | content writer | owner www.mydairynote.blogspot.com

Silahkan login untuk memberi komentar