Ketika Seseorang yang Konservatif dalam Agama Mengajarkan Saya tentang Bagaimana Menjadi Progresif

sumber gambar: favim

Ketika Seseorang yang Konservatif dalam Agama Mengajarkan Saya tentang Bagaimana Menjadi Progresif

901
Selama ini, benarkah agama terlalu kuat mengikat kehidupan manusia?

Sebagai orang yang percaya pada nilai-nilai feminisme, pluralisme, (sedikit) sosialisme, dan kemanusiaan, saya selalu berusaha untuk sanggup menjadi “progresif”. Agak susah memang menerjemahkan kata ini. Tapi satu kalimat dari Pramoedya Ananta Toer yang saya pikir mampu menggambarkannya adalah “adil sejak dalam pikiran”.

Saya kira, Ma, hal ini sesuatu yang penting dalam konteks situasi di negara kita saat ini. Politik memanas, dengan bumbu agama berlimpah. Masyarakat kita yang sebagian besar religius mulai terombang-ambing dan kehilangan empati. Bahkan, anak-anak kita pun mulai terkena dampaknya yang mengkhawatirkan.


BACA JUGA


Mengajarkan Agama Pada Anak? Penting Banget! Bisa Mama Lakukan Dengan 4 Cara Ini

Mengajarkan Agama Pada Anak? Penting Banget! Bisa Mama Lakukan Dengan 4 Cara Ini

Mengajarkan agama pada anak sejak dini itu penting banget! Oleh karena itu Mama mesti tahu 4 cara efektif ini dalam mengajarkan agama pada ...

Read more..


Saya punya pengakuan, Ma, saya tak suka konservatisme dalam agama. Alasan utamanya adalah karena bagi saya cara pandang ini cenderung menolak membuka mata terhadap kemungkinan-kemungkinan atau perspektif-perspektif berbeda. Ditambah lagi, masyarakat yang konservatif religius pun cenderung gemar “mengikat” orang lain secara paksa berdasarkan prinsip-prinsip moral mereka yang subjektif.

Tapi suatu hari, Ma, saya menyaksikan sesuatu yang membuat saya merasa tertampar tepat di wajah.


Hari itu sedang hujan. Saya sedang berada di dalam bus kota, dalam perjalanan pulang kerja. Ada seorang perempuan muda di sebelah saya. Tampaknya mahasiswi. Dari penampilannya saja, saya tahu ia seorang ukhti – gamis panjang, jilbab panjang, penutup lengan, kaus kaki. Dan sementara penumpang lain biasanya memilih tidur dalam perjalanan, ukhti ini memilih membuka buku kecil dan mulai menyitir ayat-ayat Alquran dengan suara lirih.

Entahlah mengapa, tapi saya cenderung merasa risih bila berdekatan dengan orang-orang seperti sang ukhti di sebelah saya itu. Mungkin karena di mata saya, orang-orang sepertinya seolah-olah selalu membawa sederet kata penghakiman di dahi mereka, membuat saya merasa kotor dan berdosa.

(Dan jika hendak jujur, harus kita akui bahwa sudut pandang agama berperan banyak dalam penghakiman atau tekanan sosial di masyarakat kita.)

Saya tahu, saya terdengar diskriminatif dan judgemental. Tapi sungguh, bukan itu maksud saya. Saya tak pernah punya kemarahan atau kebencian (seperti sebagian fans Donald Trump di USA sana) kepada Islam atau teman-teman Muslim. Tak juga saya menganggap mereka konyol – seperti anggapan sebagian kaum ateis terhadap kaum religius. Ide konservatismelah – yang direpresentasikan oleh penampilan sang ukhti – yang membuat saya jengah.

Ketika bus kami baru saja hendak memasuki gerbang tol, seorang pengamen lelaki paruh baya masuk bersama ukulelenya yang lusuh. Sambil menunggu kesempatan bernyanyi, pengamen itu membantu kernet mencari penumpang sembari mengobrol. Kebetulan saya dan sang ukhti duduk di depan, sehingga bisa mendengar obrolan mereka.

Pengamen itu bercerita tentang anak perempuannya yang sangat ia banggakan. Katanya, anak ini rajin dan sangat bersemangat untuk sekolah. Dia berhasil masuk SMA favorit di daerahnya, meski orang tuanya tak banyak uang. Kata si pengamen, ia ingin sekali kelak bisa memasukkan anaknya ke perguruan tinggi yang bagus. Karena itulah sesore itu ia masih di jalanan, meski suaranya sudah serak dan tenggorokannya sakit.

Singkat cerita, selama perjalanan di jalan tol, pengamen itu bernyanyi. Suaranya memang serak dan terdengar dipaksakan. Lagu-lagu yang dipilihnya adalah lagu-lagu perjuangan dan lagu-lagu pop jadul. Ketika ia selesai, saya tergesa merogoh dompet untuk mencari receh.

Waktu itu, bus sudah keluar dari tol. Banyak penumpang yang mulai berdiri untuk mengantre turun sambil merogoh ongkos. Ukhti di sebelah saya mengambil dompetnya dan memilih selembar seratus ribuan.

Wah, kasihan duitnya gede banget, bakalan repot karena supirnya nggak punya kembalian, batin saya.

Si pengamen mengulurkan kantung plastiknya pada kami. Saya memasukkan koin seribuan. Sang ukhti memasukkan lembar seratus ribuannya.

Saya ternganga.



Saat ini, kita hidup dalam masyarakat yang konservatif secara ideologi, tapi praktis secara ekonomi. Atau kalau kata seorang teman saya, “Semua akan kapitalis pada waktunya.”

Itulah yang saya lakukan sore itu: saya menghitung berapa yang saya punya dan berapa yang saya sanggup berikan. Logis, tentu. Practical. Tapi sejujurnya, andai pun saya sedang punya uang berjuta-juta, takkan tebersit di kepala saya memberi sebanyak itu pada seorang pengamen.

Tapi ukhti itu melakukannya. Dengan seribu satu alasan yang bisa saya berikan – saya tak sanggup menyisihkan sebanyak itu, saya bukan orang kaya, dan seterusnya – sesungguhnya sang ukhti pun tak terlihat kaya raya. Mestinya tak jauh-jauh dari standar hidup mahasiswi biasa. Tindakannya yang sederhana itu berhasil membuat saya berpikir keras berhari-hari setelahnya.

Tindakan sang ukhti mengingatkan saya pada satu kisah dalam kitab suci saya sendiri, tepatnya di Perjanjian Lama.

Tersebutlah seorang janda yang sangat miskin. Dia hanya punya harta berupa dua keping koin, padahal semua orang diharapkan untuk memberikan persembahan di Bait Allah. Meski demikian, ia tetap berjalan ke kotak persembahan dan memasukkan kedua keping uang itu. Seluruh harta bendanya.

Dari manakah janda itu menemukan hati untuk mempersembahkan segala miliknya? Dari manakah ukhti di sebelah saya menemukan hati untuk melakukan apa yang dilakukannya?

Saya pernah melihat beberapa contoh, Ma, ketika mereka yang (katanya) berpikiran terbuka gagal untuk bersikap adil.


BACA JUGA


Pilkada DKI yang Seru Jangan Sampai Membuat Si Kecil Jadi Membenci Perbedaan! Simak 7 Cara Mengajarkan Toleransi Ini!

Pilkada DKI yang Seru Jangan Sampai Membuat Si Kecil Jadi Membenci Perbedaan! Simak 7 Cara Mengajarkan Toleransi Ini!

Masa Pilkada DKI Jakarta ini ... luar biasa! Seru banget, ya Ma? Kayaknya nggak ada orang yang nggak memperhatikan proses Pilkada ibu kota ...

Read more..


Sebagian dari kita yang kemarin ikut ramai dengan pilkada ibu kota mungkin ingat, betapa mudahnya menudingkan telunjuk kelas menengah kita pada orang-orang yang digusur dari tempat yang sudah lama mereka anggap rumah – oleh calon gubernur yang sedang kita dukung. Kita bilang, mereka pelanggar hukum – atau, kita menuduh orang-orang yang membela hak mereka sebagai hipokrit pendukung calon sebelah.

Hal-hal seperti ini ternyata mudah sekali membuat kita semakin terpecah belah. Label disematkan, entah itu “teroris”, “liberal”, atau “kaum bumi datar”. Kita lupa bagaimana caranya berdialog atau menemukan win win solution. Kita memalingkan wajah kita dari ketidakadilan, karena kita merasa benar, atau justru karena kita merasa kitalah yang sedang dikorbankan.

Mungkin karena kita sudah terlalu mudah lupa. Lupa kalau kita punya banyak privilege – bisa mengenyam pendidikan tinggi, bisa banyak membaca, bisa berada dalam golongan mayoritas, bisa mengakses ribuan informasi tanpa harus khawatir hari ini makan apa.

Kita lupa bahwa kebebasan bukan hanya berarti bebas mengambil pilihan, tapi juga memiliki modal yang cukup untuk mengakses pilihan-pilihan yang ada.

Bagaimana kalau sikap mudah lupa ini diwariskan kepada generasi di bawah kita, generasi anak-anak kita?



Selama ini saya beranggapan bahwa agama terlalu kuat mengikat kehidupan manusia. Tapi hari itu saya diingatkan, bahwa meskipun ada banyak hal yang perlu (dan harus) dikritisi dari agama dan komunitasnya, ada suatu hal penting yang sama-sama diajarkan baik oleh agama maupun oleh prinsip-prinsip kemanusiaan.

Jika diaplikasikan dengan benar dan dengan upaya sungguh-sungguh untuk membuang segala keegoisan kita, keduanya bisa mengajarkan kita untuk lebih empatis. Lebih menjadi manusia yang memanusiakan sesama. Lebih adil. Lebih penuh kasih.

Kalau bukan itu hakikat dari menjadi progresif, Ma, sungguh saya tak tahu apa lagi artinya.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Ketika Seseorang yang Konservatif dalam Agama Mengajarkan Saya tentang Bagaimana Menjadi Progresif". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Putri Widi Saraswati | @putriwidisaraswati

INTJ. Feminis amatir, pencinta buku, penulis angot-angotan, dokter saat dibutuhkan. Belum jadi mama - but would like to be, someday.

Silahkan login untuk memberi komentar