Kenali Bakat Seni pada Anak, dan Terus Stimulasi Agar Tak Pernah Terputus dari Seni demi Kebaikan Anak di Kemudian Hari

Kenali Bakat Seni pada Anak, dan Terus Stimulasi Agar Tak Pernah Terputus dari Seni demi Kebaikan Anak di Kemudian Hari

1.9K
Bakat seni pada dasarnya ada pada setiap orang, dan merupakan kecerdasan dasar pada anak-anak. Tinggal bagaimana kita membantunya mengembangkan diri, memfasilitasinya dan mendorongnya untuk terus mencoba.

Mama merasa sedih karena nggak punya anak berbakat seni? Atau merasa si kecil nggak punya bakat seni? Ah, masa! Bukannya anak-anak sudah menyukai semua hal yang berbentuk seni sejak lahir ya? Atau mungkin, lebih tepatnya, Mama tak bisa mengenali bakat seni pada anak?

Coba deh Mama ingat-ingat, mereka dulu sewaktu bayi kan pasti suka sekali memperhatikan benda yang bergerak-gerak, apalagi yang berwarna. Saat sudah berusia 1 tahun, dia mulai suka spidol, pensil warna, krayon. Corat coret di mana saja, termasuk di dinding rumah, di sofa, di seprai. Pffft!

Kemudian dia lanjut ke merobek-robek kertas, terus disusun ulang. Bikin patchwork, mungkin begitu pikirnya. Terus, sudah pernah juga coba memberinya stiker kan? Pasti dia juga dengan riang gembira meminta kita mengelupasnya, lalu menempelkannya di mana-mana. Dicabut, lalu tempel lagi di tempat lain, sampai nggak bisa nempel lagi.

Dia juga pasti suka musik. Coba saja perdengarkan musik lalu ajak dia bertepuk tangan. Oh, pasti dia akan melakukannya dengan tertawa-tawa. Lihat pula betapa cepatnya dia menggoyang-goyangkan tubuhnya begitu mendengar suara musik dari mana pun. Apalagi ada kita yang menyemangatinya berjoget.

Hmmm ... masih merasa si kecil tak punya bakat seni?



Sesungguhnya, Mama, seni bukan masalah bakat dan nggak berbakat. Menurut para pakar tumbuh kembang anak, seni sebenarnya sudah menjadi bagian proses tumbuh dan kembang si kecil. Well, memang sih ada bakat seni pada anak yang lebih menonjol ketimbang yang lain. Tapi bukan berarti yang lain nggak ada bakat sama sekali. Bahkan baik berbakat atau tidak, semua juga harus dikembangkan kan? Yang berbakat juga nggak akan merasakan manfaatnya jika nggak dikembangkan kan?

Anak berbakat seni melukis, misalnya, jika nggak dikembangkan atau diarahkan, maka gambarnya hanya akan begitu-begitu saja. Dia nggak akan kreatif menciptakan gambar yang baru. Sedangkan yang katanya bukan anak berbakat seni, kalau dilatih secara rutin dan baik, mungkin sih nggak akan sespektakuler Salvador Dali atau Van Gogh juga sih. Tapi setidaknya dia akan terlatih untuk kreatif menciptakan bentuk baru.

Namun, meski seni seharusnya sudah melekat setiap orang sejak lahir, banyak faktor yang akhirnya membuat seseorang putus ikatan dengan seni. Misalnya, ada banyak orang yang mengaku nggak bisa gambar, bahkan bentuk sederhana sekalipun. Hmmm ... bisa jadi karena dulu faktor lingkungan dan orangtua yang membuatnya begitu.

Ah, curhat deh. Hihihi.

Soalnya kan memang, Ma, orangtua zaman dulu sepertinya banyak yang terlalu meremehkan bakat seni pada anak. Mayoritas pasti lebih mementingkan melatih kemampuan matematika dan sains pada anak. Orangtua kerap melarang begitu anak-anak mulai mencorat-coret dinding. Apalagi porsi pelajaran seni di sekolah juga cuma sebagai pelengkap.

Padahal banyak sekali manfaat yang bisa didapatkan si kecil seandainya bakat seninya dilatih.


Manfaat menstimulasi bakat seni pada anak


1. Membuat anak menjadi lebih kreatif

Kreatif di sini nggak melulu terbatas pada bakat seni pada anak, tapi juga berarti anak akan selalu punya cara untuk menyelesaikan masalah. Contohnya, ketika bertengkar dengan temannya, maka dia akan selalu punya cara untuk menyelesaikan konflik dengan baik.

Bahkan, tahu nggak sih, Ma, anak yang kreatif biasanya malah mampu menyelesaikan soal matematika tanpa menggunakan rumus yang baku. Dia dapat menemukan jalan sendiri, dengan hasil yang sama!


2. Menjadikan anak lebih percaya diri

Membuat karya seni, seperti melukis, crafting, menari, menyanyi, akan bisa membangun kebanggaan anak terhadap diri sendiri.

Coba bayangkan, Ma. Saat dia melukis, misalnya. Dia akan menghabiskan waktunya selama berjam-jam, melibatkan seluruh pancaindra, hati dan jiwanya. Dia akan melatih perasaannya, agar bisa menghasilkan lukisan yang mahaindah. Ketika selesai, dia akan merasa puas dan bangga karena telah berhasil menciptakan sesuatu. Apalagi kalau ditambah dengan apresiasi dari orangtuanya dan orang lain.

Seiring semakin besar cuping hidungnya berkembang, semakin besar pula kepercayaan dirinya. Hahaha.


3. Lebih cepat mengembangkan kemampuan motorik

Menstimulasi bakat seni pada anak berarti mendorongnya untuk melakukan sesuatu dan bergerak secara terkendali.

Awalnya, si kecil akan menggerakkan seluruh lengannya untuk membuat coretan saja. Nggak beraturan? Ya, biarkan saja. Lama-lama dia akan mampu mengendalikannya dengan lebih baik, hingga kemudian hanya pergelangan tangannya saja yang bergerak menggoreskan pensil dan krayonnya.

Hal tersebut menandakan bahwa kemampuan motoriknya semakin matang, Ma. Coretannya semakin rapi, dan bermakna.

Begitu juga dengan musik. Pertama dia mungkin random banget memencet tuts-tuts piano. Namun, lama-lama dia akan mengenali irama. Dia akan mengendalikan ototnya agar bisa menciptakan irama yang indah.

Anak yang terbiasa berlatih, meski bukan anak berbakat seni, kemampuan motoriknya akan lebih cepat berkembang dibandingkan dengan yang jarang atau tak pernah dilatih.



4. Belajar fokus

Seni sejak dulu menjadi media penolong bagi anak-anak berkebutuhan khusus, Ma. Pada anak dengan ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) yang sulit fokus, proses membuat karya seni bisa membuat mereka lebih tenang dan fokus saat melakukan sesuatu.

Aktivitas, seperti menggambar, akan membuat anak tetap fokus dan konsentrasi pada hal yang dia lakukan, meski banyak aktivitas lain yang terjadi di sekelilingnya.

Kemampuan untuk fokus ini kelak akan berguna jika ia harus menyelesaikan soal matematika atau pelajaran lain yang membutuhkan konsentrasi tinggi.


5. Menjadi sarana komunikasi nonverbal

Tak seperti orang dewasa yang dapat menyampaikan emosi, anak-anak belum memiliki kemampuan yang cukup untuk berkomunikasi, begitu kata banyak pakar tumbuh kembang. Anak yang marah, sedih, lapar, takut, paling-paling ya hanya menangis. Dan kita, orangtuanya, kadang nggak mengerti apa yang sebenarnya sedang dirasakan oleh anak-anak.

Dengan menstimulasi bakat seni pada anak, berarti kita juga melatih anak mengenali emosi, dan kemudian mengekspresikannya secara nonverbal. Kita juga jadi lebih mudah pula ikut merasakannya, baik itu berupa coretan, tarian, atau nyanyian mereka.



Well, memang ada studi yang menunjukkan, bahwa ada korelasi antara seni dan prestasi-prestasi lain, Ma. Anak-anak yang melakukan kegiatan seni sebanyak 3 jam sehari selama 3 hari dalam seminggu memiliki kemungkinan prestasi akademik yang meningkat 4 kali lebih tinggi. Mereka biasanya juga berkesempatan lebih besar memenangkan penghargaan penulisan esai atau puisi daripada anak-anak yang tidak melakukan kegiatan seni apa pun.

Lalu bagaimana cara menstimulasi bakat seni pada anak, dan memperkenalkan mereka lebih dalam pada seni?

Sederhana saja sih, Ma. Kan pada dasarnya mereka sudah suka seni sejak bayi, maka kita sebenarnya hanya perlu menjaga saja agar setiap hari mereka terkoneksi pada seni. Ingat, bahwa anak berbakat seni pun juga bisa terputus dari seni, jika kita tidak pernah menstimulasi bakat seninya.

Ada beberapa langkah yang bisa kita lakukan.


Beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk menstimulasi bakat seni pada anak



1. Jangan membatasi anak

Akan tiba saatnya si kecil mencorat-coret dinding. Iya sih, rumah bakalan tampak berantakan, kotor, dan sebagainya. Tapi dinding memang merupakan kanvas yang sangat menarik buat mereka. Hayo. Ngacung, Ma, yang dulu pas masih kecil juga suka banget coretin dinding! *ngacung paling tinggi* Hihihi.

Meski tak mungkin benar-benar menghindarkan dinding dari sasaran coretan, namun Mama bisa juga memfasilitasi mereka dengan menyediakan kertas kosong yang banyak.

Iya, Ma. Meski sudah dapat kertas, mereka tetap corat coret dinding juga sih. Nggak usah ngomel. Cukup menghela napas panjang saja. *lalu menerawang menatap dinding yang sudah penuh dengan coretan segala macam*


2. Dampingi saat mereka berekspresi

Saat mereka menyanyikan lagu ciptaan mereka sendiri, jangan lupa untuk ikut mendengarkan.

Saat gambar mereka selesai, tanyakan, “Ini gambar apa?” Kalau Mama bisa dan selo, Mama bisa memberi contoh bentuk yang lebih baik juga buat mereka.

Saya sendiri memberi les gambar buat dua krucil saya setiap Sabtu sore. Hihihi. Sederhana saja sih, menggambar rumah, atau jalan raya, atau teddy bear. Lain waktu, saya ajarin mereka mewarnai. Bagaimana membuat gradasi dan seterusnya. Hasilnya? Ya gitu deh. Asal mereka senang, urusan hasil nanti-nanti sajalah. Yang penting mereka terbiasa menggores pensil.



Gambar saya yang disontek oleh dua anak saya


3. Berikan pujian dan masukan

Saat nyanyiannya selesai, atau tariannya usai, berikan aplaus. Saat gambarnya selesai, berikan pujian, kalau perlu kasih nilai. Beri masukan jika memang perlu.

Sesekali Mama juga memotretnya ketika sedang memamerkan hasil karyanya, lalu unggahlah ke media sosial Mama yang tentu saja dengan seizinnya. Saat ada yang mengapresiasi, tunjukkan padanya.

“Nih, Dek, ada Tante Ani kasih jempol nih!”

Oh, dia akan senang sekali pasti!


4. Pajanglah hasil karya mereka

Jika berupa lukisan, Mama bisa memajangnya di pintu lemari es dengan magnet. Atau bikin deh photo wall, yang bisa menjadi hall of fame untuk karya anak-anak.

Jika berupa nyanyian, coba sesekali direkam, Ma. Lalu simpan dan putarlah sekali waktu, supaya dia senang.

Apa pun bentuknya, apresiasilah!


Nah, Mama, pastinya Mama sudah nggak bingung dan nggak lagi merasa si kecil nggak punya bakat seni kan? Mama bisa menstimulasi bakat seni pada anak melalui hal-hal kecil seperti di atas setiap hari.

Bakat seni pada anak itu selalu ada, karena merupakan salah satu kecerdasan dasar pada anak-anak. Tinggal bagaimana kita membantunya mengembangkan diri, memfasilitasinya dan mendorongnya untuk terus mencoba.

Happy parenting, Mama!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Kenali Bakat Seni pada Anak, dan Terus Stimulasi Agar Tak Pernah Terputus dari Seni demi Kebaikan Anak di Kemudian Hari". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Carolina Ratri | @carolinaratri

An INFJ-T sarcastic sagittarian Managing Editor of Rocking Mama. Deeply passionate about writings, graphic designs, hand-drawings, and hand-letterings. Read her journal at www.CarolinaRatri.com

Silahkan login untuk memberi komentar