Jatuh Cinta Berkali-kali pada Papa dan Si Kecil untuk Membentuk Komunikasi yang Lebih Baik

Jatuh Cinta Berkali-kali pada Papa dan Si Kecil untuk Membentuk Komunikasi yang Lebih Baik

1.5K
Jatuh cinta berjuta rasanya. Apalagi kalau bisa jatuh cinta berkali-kali.

Hi, Mama! Pagi ini tiba-tiba saya tersenyum mengingat betapa saat jatuh cinta itu semua jadi terasa indah. Senyum hampir selalu terlukis indah di wajah, dan terngiang pula kata-kata indah nan mesra dari dia. Ciyehhh. Tuh, Mama juga jadi senyum sendiri juga kan?

Nah, terus, gimana sekarang, Ma? Setelah ada anak-anak manis yang dianugerahkan oleh Tuhan, apakah Mama dan Papa masih saling jatuh cinta? Apakah masih selalu saling lempar kata cinta penuh senyum dengan Papa? Atau jangan-jangan, kata-kata cinta itu sudah menjadi kata-kata yang langka?

Memang nggak bisa dipungkiri ya, bahwa sekarang segala kesibukan dan aktivitas mengurus rumah tangga, anak-anak, dan pekerjaan serta rutinitas kita hampir selalu menguras energi, hingga mengikis juga sisi melankolis kita.

Mau jatuh cinta lagi gimana? Kalau setiap pagi sudah rusuh dengan persiapan anak-anak sekolah, suami ngantor, plus barangkali kita sendiri juga harus segera berangkat ke kantor juga? Setiap malam, sudah capek banget, setelah seharian beraktivitas.



Tapi, coba jawab deh, Mama, adakah yang nggak pengin dihujani dengan kata-kata cinta setiap waktu? Mentang-mentang umur sudah bertambah, apakah kemudian berarti kita nggak suka mendengar kata-kata romantis? Sepertinya enggak ya. Rasa cinta, yang kemudian diungkapkan dalam kata-kata itu bisa bikin hati berbunga dan bahagia. Ya nggak? Semangat jadi menyala seharian, dan mood kita pun jadi baik.

Atau jangan-jangan terhadap anak-anak pun kita termasuk orang yang susah mengungkapkan cinta lewat kata-kata? Padahal konon katanya, seorang anak akan mengalami jatuh cinta pertamanya saat menatap ibunya untuk yang pertama kali. Bagaimana dengan kita? Seharusnya kita juga jatuh cinta berkali-kali pada si kecil. Betul nggak?

Ataukah kita adalah orang yang sering berpikir, "Ah, ngapain juga ngumbar kata cinta ke Papa? Udah pasti cinta kok! Toh juga sudah jadi istrinya kan? Apa? Jatuh cinta ke anak? Seluruh isi dunia juga tahu, bahwa sebagai mama, kita pasti mencintai anak-anak kan?"

Hmmm. Nggak salah sih kalau kita berpikir demikian. Tapi tahu nggak sih, Ma, bahwa jika perasaan cinta itu nggak dipupuk, maka dia bisa memudar?

Memang sih, cara memupuk cinta nggak cuma dengan mengungkap kata-kata cinta nan mesra. Banyak cara lain untuk mengungkapkan cinta. Tapi, balik lagi ke pertanyaan di atas, siapa sih yang nggak bahagia jika pasangan kita masih rajin mengungkap rasa cintanya pada kita? Padahal tahu banget ya, saat ini badan sudah nggak langsing lagi, gelambir di sana sini, stretch mark di perut, selulit di lipatan paha, rambut sudah nggak sekemilau dulu pun sudah lebih gampang capek, berbeda banget dengan zaman kencan dulu?

Sekalimat penuh kata cinta, pasti akan membuat kita kembali percaya diri, yakin kalau diri ini masih menarik.



Atau, coba deh bayangkan, betapa terharu dan bahagianya kita jika anak-anak tiba-tiba memeluk kita sembari berbisik, "Aku sayang Mama! Terima kasih ya, Ma, udah selalu sayang aku!"

Awww ... melting! Dijamin mata akan jadi berkaca-kaca, dan bahagianya itu melebihi dirayu oleh pacar kan, Ma? Hahaha.

So, untuk selalu diingat, bahwa anak-anak kan belajar dari kita, orangtuanya. Anak-anak adalah perekam informasi terbaik. Jadi dari mana mereka bisa belajar untuk ekspresif mengungkapkan perasaan mereka, jika bukan dengan melihat? Dan, dari mana lagi mereka bisa melihat segala hal yang baik, jika bukan dari kita?

Kalau kita hampir nggak pernah memperlihatkan rasa cinta kita pada pasangan, dari mana anak-anak belajar bahwa rasa cinta itu adalah hal yang baik? Kalau kita juga hampir tidak pernah mengungkapkan perasaan cinta kita dengan pasangan, bagaimana mungkin anak-anak bisa jatuh cinta juga pada kita, orangtuanya? Juga bagaimana bisa mengungkapkan rasa cinta mereka pada kita, orangtuanya?

Jangan-jangan mereka akan berpikir, bahwa mengungkapkan suatu perasaan adalah tabu atau nggak pantas. Duh, jangan sampai ya, Ma.

Karena menurut saya, belajar berkomunikasi justru harus dimulai dari bagaimana cara kita mengungkapkan oerasaan. Contoh nih, Ma.

"Nak, Mama senang sekali kalau pulang sekolah, kamu langsung ganti baju seperti ini."

"Sayang, Mama senang deh, dibantuin dengan Kakak membawa piring Kakak sendiri ke dapur begini."

"Dik, Mama jadi ikut sedih banget deh, kalau Adik nggak bilang apa penyebab Adik menangis seperti ini."

Selain si anak akan merasa mendapatkan perhatian dan apresiasi dari perbuatan baiknya, dia juga tau bagaimana cara mengungkapkan rasa dengan baik.

Jangan kaget kalau suatu saat dia juga akan melakukan hal yang sama.

"Mama, Kakak senang banget diajak Mama main ke playground. Besok ke sini lagi ya!"

"Mama, besok jangan terlambat lagi jemputnya ya. Kakak jadi sedih, nggak bisa pulang cepat sama Mama."

Ah, betapa dia akan selalu berkata-kata yang positif kan, meski sebenarnya dia sedang mengungkapkan kesedihannya?



Dan jika kita ingin menyampaikan sesuatu yang kurang menyenangkan kepada anak, maka perlu kita perhatikan juga kondisi anak saat itu. Apakah dia sedang lelah, lapar, atau ada yang dia pikirkan? Sebaiknya kita biarkan sampai kondisi tenang dan situasi menyenangkan.

Bisa kita mulai dengan menanyakan padanya, "Kak, Mama mau bicara sama kamu, enaknya kapan ya? Habis makan malam saja kali ya? Saat PR Kakak sudah selesai."

Atau, biarkan dia yang menentukan waktunya.

Ada kalanya juga anak-anak melakukan hal yang tidak sesuai dengan keinginan kita, atau mengecewakan kita. Dengan selalu berkata-kata positif, dengan kemampuan menngungkapkan perasaan, dan rasa jatuh cinta yang berkali-kali pada mereka, kita akhirnya juga belajar menahan emosi. Bahkan meski kita kecewa pun, kita bisa selipkan sedikit senyuman manis, agar suasana bisa lebih santai. Baru kemudian kita ungkapkan perasaan kita pada anak, pastinya dengan kata-kata yang lebih baik, ketimbang kata-kata penuh kemarahan.

"Kakak tahu nggak, Kak, kalau kebersihan itu sebagian dari iman? Coba deh, Kakak belajar beresin buku kalau habis dibaca."

Dan jangan lupa selalu memberi apresiasi atas segala sikap baiknya sekecil apa pun.

See? Bisa berkomunikasi dengan mengungkapkan perasaan yang dilandasi perasaan jatuh cinta berkali-kali itu akan membawa kebaikan kan, Ma? Bukan hal mudah, apalagi jika suasana hati sedang tidak baik dan dipenuhi emosi.

Saya sendiri juga mesti banyak belajar agar anak-anak kelak juga tahu, bagaimana cara berkomunikasi yang menyenangkan tanpa saling menyakiti. Karena kadang, kita begitu egoisnya sebagai orangtua, menuntut anak selalu bersikap baik namun kita masih selalu penuh emosi jika berkomunikasi.

Yuk, semangat belajar dan selamat jatuh cinta berulang kali, Mama-Mama hebat!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Jatuh Cinta Berkali-kali pada Papa dan Si Kecil untuk Membentuk Komunikasi yang Lebih Baik". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Yudith Kusumawardani | @yudithkusumawardani

Silahkan login untuk memberi komentar