Ini Dia 4 Kesalahan yang Sering Kita Lakukan Setiap Hari Tanpa Sadar dan Membuat Kita Selalu Gagal Meraih Sukses!

Ini Dia 4 Kesalahan yang Sering Kita Lakukan Setiap Hari Tanpa Sadar dan Membuat Kita Selalu Gagal Meraih Sukses!

2.3K
A mind is like a parachute it doesn’t work if it isn’t open - anonym

Kesalahan?

Duh, siapa sih yang nggak pernah bikin salah. Semua dari kita pernah melakukan kesalahan. Baik yang kita sadari maupun yang tidak kita sadari.

Nah, kesalahan yang nggak disadari ini yang bisa jadi masalah, Ma. Parahnya lagi saking nggak sadarnya, kita bahkan nggak tahu kalau hal itu adalah sebuah kesalahan. Dan karena ketidaktahuan itu kita pun mengulanginya berulangkali. Begitu sering kita ulang-ulang, hingga kita membuatnya menjadi kebiasaan. Dan akhirnya, kebiasaan tersebut bisa menghalangi kita meraih sukses dalam hal apa pun.

Ah, parahnya!

Coba deh kita simak bareng, Ma. Apa saja sih kesalahan yang sering kita lakukan dalam keseharian tanpa kita sadari?


Bias Konfirmasi


Ini merupakan istilah dalam Ilmu Psikologi yang menjelaskan tentang kecenderungan orang-orang untuk membuat kesimpulan berdasarkan penjelasan atau data-data yang mendukung pendapat mereka dan mengabaikan penjelasan atau data yang menyatakan sebaliknya.

Mau contoh konkretnya, Ma? Gampang.

Sejak Oktober 2014 sampai lima tahun ke depannya kita masih akan terus melihat pertentangan dua kubu, kok. Terutama di sosial media. If you know what I mean ….

Kecenderungan ini muncul dari kesamaan value atau beliefs, pengalaman juga wawasan. Bahkan pada sosial media semacam facebook pun, teman-teman kita adalah hasil seleksi berdasarkan kesamaan. Ini sangat manusiawi, Ma. Karena, bagaimanapun, manusia memiliki kecenderungan untuk berkelompok pada sesamanya.

Namun menjadi masalah, ketika kesamaan ini membuat kita menjadi berpikir sempit. Enggan untuk belajar melihat dari dua sisi. Apalagi sampai menolak fakta-fakta hanya semata karena berbeda dengan yang kita yakini.

Mama bisa bayangkan, ‘kekacauan’ berpikir apa yang akan menjangkiti isi kepala kita jika terus menerus melakukan hal ini.


Stereotype dan Fakta


Ini adalah jebakan betmen yang paling sering kita temui saat berkomunikasi, Ma.

Coba deh kita ingat, mungkin sudah ratusan kali kita menghakimi seseorang karena suku. Misalnya, “Pantesan lelet, wong Solo …,” atau “Nawarnya gitu banget ih! Pasti dari Padang!”

Err… ngaco banget kan, Ma?

Karena faktanya setiap individu punya karakter sendiri-sendiri yang unik dan nggak ada hubungannya dengan suku. Apalagi soal tawar-menawar tadi, itu kan keahlian nyaris semua Eeak-emak dari belahan dunia mana pun!

Itu baru variabel suku. Belum lagi profesi. “Ah, artis mah biasa gitu.” Nah!

Atau status perkawinan. Bahkan juga gender.

Semua punya label yang dilekatkan. Dan kita cenderung memperhatikan labelnya dari pada isinya.

Duh!


Fokus Pada Hal Negatif


Baik pada diri sendiri maupun orang lain, otak kita cenderung sensitif pada hal-hal yang sifatnya negatif. Juga memiliki kemampuan untuk menyimpan dengan cepat dan lama pada hal-hal yang negatif ketimbang hal yang positif.

Rick Hanson, PhD seorang pakar Neuropsychologist sekaligus penulis buku Hardwiring Happiness: The New Brain Science of Contentment, Calm, and Confidence, mengibaratkan otak kita sebagai Velcro untuk hal-hal negatif dan Teflon untuk hal-hal yang positif.

Artinya, kita cenderung merespon dengan cepat hal, peristiwa atau situasi yang negatif. Gambar korban kecelakaan atau berita perceraian artis akan lebih cepat viral daripada berita perayaan 50 tahun perkawinan, misalnya. Begitu pula dalam menilai atau menyimpulkan. Sementara sebaliknya otak ternyata harus dilatih untuk fokus pada hal-hal positif.

Nah, setelah mengetahui hal ini, tentunya kita bisa lebih aware. Lebih menyenangkan untuk menyebarkan kebahagiaan daripada sebaliknya. Hitung-hitung melatih otak kan, Ma?


Mengandalkan Ingatan


Kita bersandar pada ingatan-ingatan. Kalau berdasarkan poin di atas, maka kita cenderung lebih banyak menyimpan ingatan-ingatan negatif. Jika dalam menilai atau menyimpulkan sesuatu kita bersandar sepenuhnya pada ingatan, maka bisa dipastikan penilaian tersebut tidak akurat.

Mengapa?

Sebab setiap detiknya segala sesuatu berubah. Ingatan pun demikian, ia tidak lagi sesuai dengan kekinian. Yang menetap hanyalah respon perasaan atas ingatan tersebut. Bukan ingatan itu sendiri. Seorang bijak berkata,”Don’t look back with anger.”

Menurutkan respon perasaan hanya akan mendistorsi penilaian kita atas obyek ingatan. Pun hanya akan membuat ‘cacat’ rasa bahagia yang kita miliki. Lihatlah segala sesuatu seperti apa adanya saat ini. Living present moment and let go. So you can grow.


Empat hal tersebut adalah kesalahan manusiawi, Ma. Namun setelah mengetahuinya tentu tidak ada salahnya melatih diri untuk lebih aware mulai saat ini.

Always be positive and spreads only love!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Ini Dia 4 Kesalahan yang Sering Kita Lakukan Setiap Hari Tanpa Sadar dan Membuat Kita Selalu Gagal Meraih Sukses!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Aline Mora | @alinemora

❣ humalien ❣ writer ❣ dream walker ❣ tarot & oracle reader ❣ extraordinary mother ❣ runeranu.wordpress.com akusanglirang.wordpress.com

Silahkan login untuk memberi komentar