Anak Pemalu Perlu Didampingi Kala Mengatasi Kesulitannya Bersosialisasi. 6 Tips Ini Pasti Bisa Membantu!

Sumber foto : google

Anak Pemalu Perlu Didampingi Kala Mengatasi Kesulitannya Bersosialisasi. 6 Tips Ini Pasti Bisa Membantu!

917
Anak pemalu bukannya tak bisa diatasi. Kita bisa kok, mengarahkan mereka untuk lebih berani dan mengurangi sifat pemalunya, agar tak berimbas pada kehidupan sosialnya kelak.

Si kecil selalu ngumpet kalau diajak bertemu dengan orang banyak, Ma? Atau, tiba-tiba saja dia menjadi pendiam kalau diajak main ke rumah sepupu, padahal di rumah dia begitu aktif? Hmmm ... barangkali dia adalah tipe anak pemalu.

Well, karakter anak memang berbeda-beda ya. Ada yang malu-malu kalau ketemu dengan orang, ada juga yang malu-maluin. Hahaha. Nggak ada yang salah dengan kedua karakter tersebut. Tugas kitalah sebagai orangtua untuk mengarahkan mereka, sehingga dua karakter tersebut tak menjadi hal negatif yang bertumbuh dalam diri mereka. Namun justru menjadi keunggulan pribadi masing-masing anak.

Duh, memang tugas orangtua itu berat yah. Makin hari makin tambah saja PR-nya. Apalagi anak juga tumbuh terus setiap hari. Kadang yang kemarin belum bisa mereka lakukan, eh hari ini mereka sudah pintar melakukannya. Ya, anak-anak memang penuh kejutan bukan, Ma? Hal tersebut akhirnya membuat kita untuk terus belajar saat mendampingi mereka.

Begitu juga dengan anak pemalu. Sifat ini bukannya tak bisa diatasi, Ma. Kita bisa kok, mengarahkan mereka untuk lebih berani dan mengurangi sifat pemalunya, agar tak berimbas pada kehidupan sosialnya. Karena kalau dibiarkan juga nggak baik untuknya. Bisa frustrasi dia, Ma, kalau tiap kali bertemu orang dia ngumpet.

Lalu, apa yang harus kita lakukan untuk membuat anak pemalu menjadi anak pemberani yang penuh percaya diri? Here's what you can do about it.


Tips mendampingi anak pemalu agar lebih percaya diri dan berani


1. Bantu dia menyukai dirinya sendiri


Sebenarnya, mengapa dia menjadi anak pemalu? Dari mana sumber rasa malu tersebut berasal? Apakah dia menjadi pemalu saat di sekolah, di rumah ataukah di setiap kesempatan? Coba Mama amati dengan saksama, dan sedetail mungkin, sehingga kita akan mendapatkan gambaran, harus melakukan apa untuk mengatasinya.

Well, biasanya sih, rasa pemalu ini disebabkan karena dia memang kurang percaya diri akan satu hal pada dirinya. Maka, kalau memang demikian sebabnya, yang pertama kali harus kita lakukan adalah menumbuhkan kepercayaan dirinya terlebih dahulu. Salah satu caranya adalah dengan mengenali dirinya sendiri.

Oke, dia memang punya kekurangan sebagai anak pemalu. Tapi, nggak mungkin kan, dia nggak punya kelebihan? Maka, gali lebih dalam potensinya, dan imbangi kekurangan si kecil dengan kelebihannya ini. Misalnya nih, Ma, jika dia suka menggambar, biarkan dia menggambar sebaik mungkin. Lalu setelah gambarnya selesai, minta dia untuk menceritakan gambarnya tersebut pada Mama. Atau dia suka menyanyi, minta dia menyanyi di hadapan Mama. Mama bisa sambil merekamnya dengan video kalau perlu. Jangan lupa untuk memujinya ya, setelah dia melakukannya dengan baik.

Intinya, berikan si kecil akses untuk melatih bakat dan minatnya. Anak yang merasa mempunyai kekuatan atau kelebihan tertentu (dan percaya bahwa dia melakukannya dengan baik) lambat laun akan menyukai dirinya sendiri. Dengan demikian, rasa percaya dirinya akan tumbuh.

Jangan pernah memberi label "pemalu" padanya ya, Ma! Sebab they will feel it that way. Berikan rasa nyaman padanya, karena anak pemalu biasanya cenderung sensitif dan mudah putus asa. Pilihlah kalimat-kalimat yang tepat. Jangan biarkan label ini melekat dalam ingatan, dan pada akhirnya, membuatnya benar-benar percaya bahwa dia pemalu. Katakan berbagai hal positif mengenai dirinya, agar dia semakin yakin dan menyukai dirinya sendiri.


2. Beri contoh


Yes, anak-anak lebih mudah diarahkan ketika mereka melihat contoh. Termasuk anak pemalu. Dan, siapa lagi yang bisa memberikan contoh yang baik selain Mama?

Jadi, biarkan anak melihat bagaimana Mama berinteraksi, dengan keluarga, dengan teman-teman, dengan siapa pun. Mulailah dari hal yang simpel dan sederhana, seperti bagaimana berjabat tangan, mengucapkan salam, memulai pembicaraan, hingga mengakhiri pertemuan. Dengan demikian, ajaklah dia selalu, jika memungkinkan, ke mana saja Mama pergi. Jangan karena dia pemalu, lantas mendingan di rumah saja. Makin terpuruk saja dia nanti, Ma.

Kenalkan si kecil pada teman-teman Mama, dan libatkan dia dalam pembicaraan, agar ikut berinteraksi meski hanya sepatah dua patah kata.

Jangan pernah meremehkan orang lain di depan anak ya, Ma, dan juga sebaliknya, jangan meremehkan anak di depan orang lain. Karena hal tersebut akan berdampak buruk pada perilakunya kelak.


3. Berlatihlah dengannya


Mama bisa bermain peran dengannya. Misalnya, pura-pura mengadakan pesta, dia menjadi tuan rumah dan Mama menjadi tamunya. Latihlah dia agar bisa memulai pembicaraan. Bagaimana mempersilakan Mama masuk, menawarkan minuman dan makanan, hingga saat pestanya selesai.

Jangan lupa untuk selalu gunakan kontak mata dengannya saat komunikasi ya, Ma. Mintalah agar dia melakukan hal yang sama pada Mama. Cara ini sangat efektif untuk meningkatkan konsentrasinya. Selain itu, dengan menatap mata lawan bicara akan membuatnya lebih percaya diri. Lawan bicara juga merasa dihargai.

Dengan demikian, dia akan langsung berpraktik bagaimana berbicara pada orang yang baru ditemui, orang yang sudah dikenal, teman, keluarga yang lebih tua, dan sebagainya.

Sekali waktu, Mama juga bisa mengajaknya berlatih berbicara melalui telepon dengan saudara-saudara atau sepupunya. Dengan telepon, biasanya sih lebih jelas, Ma, bagian mana dia harus memulai pembicaraan, dan bagaimana harus menutup dengan sopan.


4. Ajak berkumpul dengan keluarga


Saat dia sudah semakin percaya diri bersama Mama, maka saatnya dia terlibat dalam keluarga, sebagai lingkup sosial terkecil yang akrab.

Pompalah rasa percaya diri si anak pemalu dalam kebersamaan. Ajak dia mengunjungi rumah sepupu atau keluarganya yang lain. Mungkin pada awalnya, akan sulit membuatnya mau membaur bersama orang lain, tapi nggak apa-apa, Ma. Jangan menyerah. Memang perlu sikap konsisten agar dia terbiasa. Biarkan rasa percaya dirinya tumbuh dengan sendirinya secara alami, tanpa paksaan.

Bantu dia dengan memancingnya untuk melakukan percakapan. Ajaklah dia bernyanyi bersama, dan usahakan agar ada momen si kecil bernyanyi sendiri di tengah keluarga. Mintalah seluruh keluarga untuk mendorongnya agar percaya diri.


5. Latih dalam berbagai situasi sosial


Jika dia sudah terbiasa berinteraksi dalam lingkup keluarga, maka barangkali Mama sudah bisa mulai mengajak si anak pemalu untuk berinteraksi dengan lingkup sosial yang lebih besar.

Ajaklah dia berkunjung ke tempat baru. Sebelum ke tempat tersebut, jangan lupa, Ma, untuk menjelaskan secara rinci, kita mau pergi ke mana, akan menemui siapa, dan mau melakukan apa. Jelaskan juga bagaimana dia harus bersikap dalam situasi tersebut. Sampaikan harapan Mama kepadanya, agar dia tahu apa yang harus dilakukannya nanti.

Beberapa hal yang bisa Mama lakukan:

  • Ajaklah si kecil untuk berinteraksi dengan anak-anak yang usianya lebih muda. Keadaan ini akan membuat mereka mau untuk memulai komunikasi, karena secara naluriah, si kecil akan lebih percaya diri, Ma.
  • Jika dia sudah bisa 'menguasai' anak yang lebih muda, ajaklah teman sebayanya untuk main ke rumah. Biarkan mereka bermain bersama selama beberapa jam. Amati interaksinya ya, Ma, berapa lama yang dibutuhkannya hingga suasana benar-benar mencair dan mereka bisa asyik bermain bersama.
  • Jika dia sudah bisa berbaur dengan baik, ajaklah saudara atau teman si kecil yang usianya lebih tua ke rumah. Bimbinglah dia beradaptasi dengan tepat.
  • Biarkan anak bermain keluar, bertemu dengan banyak orang. Tunjukkan padanya betapa menyenangkannya sikap orang-orang di sekitarnya. Biarkan dia melihat, bahwa pada dasarnya, nggak ada yang nggak mau berteman dengannya.


6. Sabar dan beri pujian


Semua proses untuk menumbuhkan kepercayaan diri dan mengikis sifat anak pemalu ini memang panjang dan bertahap ya, Ma. Lagipula kecerdasan anak kan berbeda-beda. So, biarkan dia berproses secara alami, agar hasilnya bisa optimal. Yang sabar yah!

Jangan lupa untuk selalu memberinya pujian ya, Ma, saat dia berhasil meningkatkan keterampilannya bersosialisasi. Reward-nya nggak perlu yang terlalu mewah juga, sekadar pelukan dan ciuman pasti sudah bisa membuatnya senang.


Sekali lagi, Ma, mengoptimalkan kecerdasan si kecil, termasuk dalam hal bersosialisasi seperti ini, bukan pekerjaan yang mudah ya. Dibutuhkan banyak sekali trial and error, pengamatan, komitmen dan konsistensi kita dalam pendampingannya. Terutama bagi si anak pemalu, mereka sangat membutuhkan kita mendorong mereka agar lebih percaya diri.

Jika semua tips menumbuhkan kepercayaan diri si anak pemalu di atas sudah dilakukan namun belum juga ada hasil, maka jangan ragu untuk meminta bantuan profesional ya, Ma. Para konselor ini akan melakukan observasi, sehingga Mama akan dengan mudah menemukan cara pendampingan yang tepat.

Tetap semangat, Mama!




Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Anak Pemalu Perlu Didampingi Kala Mengatasi Kesulitannya Bersosialisasi. 6 Tips Ini Pasti Bisa Membantu!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Indah Mutiara putri | @imp9nn

Membaca adalah caraku mengenal dunia, dan menulis adalah caraku mengenal sebaik-baiknya diri. Hai saya indah mutiara putri, berada di Rocking Mama karena ingin belajar dan senang berbagi. Semoga apa yang saya tulis di sini memberi nilai-nilai kebaikan,

Silahkan login untuk memberi komentar