Depresi Pasca Melahirkan Bisa Berawal dari 5 Hal yang Enggan Diungkapkan oleh Para Ibu Baru Ini - Waspadai!

Depresi Pasca Melahirkan Bisa Berawal dari 5 Hal yang Enggan Diungkapkan oleh Para Ibu Baru Ini - Waspadai!

2.5K
Baby Blues Syndrome adalah salah satu bentuk depresi di mana Mama merasa sedih dan galau nggak jelas berkepanjangan setelah melahirkan. Kenali tanda-tandanya sejak awal!

Betapa membahagiakannya, saat si buah hati yang telah kita kandung selama 36 minggu akhirnya bisa kita peluk erat-erat penuh cinta. Rasa bahagia dan terharu tumpah ruah di dada.

Tapi, pengalaman menjadi mama baru memang tak pernah mudah, Ma. Maka, tak jarang para ibu baru pun dilanda depresi.

Ya, setiap mama pasti punya permasalahan sendiri-sendiri saat melewati fase ini, dan memang butuh perjuangan. Makanya, Mama membutuhkan banyak dukungan, baik itu dari suami ataupun dari keluarga yang lain.

Meski banyak orang ikut gembira menyambut kedatangan si bayi, mendoakan, dan memberi kita segala bantuan dan support yang mungkin kita butuhkan, ada kalanya ada perasaan takut, cemas, dan sedih yang diam-diam datang ke hati. Kita sama sekali nggak bisa mengungkapkannya pada orang lain, karena kita takut dianggap nggak sayang pada anak kita, ataupun takut dianggap tak mensyukuri anugerah terindah dari Tuhan ini.


BACA JUGA


Setelah Melahirkan, Ini Dia 7 Penyesalan yang Biasanya Dirasakan oleh Seorang Mama Baru!

Setelah Melahirkan, Ini Dia 7 Penyesalan yang Biasanya Dirasakan oleh Seorang Mama Baru!

Setelah melahirkan, hidup seorang perempuan akan berubah. Pastikan tak ada penyesalan menyertainya

Read more..


Perasaan apa saja yang dialami oleh para ibu baru yang bisa menjadi bibit depresi pasca melahirkan ini? Coba kita lihat yuk, barangkali Mama sekarang sedang merasakannya.


1. Missing the pregnancy time


Saat hamil 9 bulan, kita benar-benar dimanja. Mau minta apa saja, suami menuruti. Mau melakukan apa saja, semua orang maklum. Yaaahh, namanya saja ibu hamil. Bebas! Makan apa saja? Ayo! Atas nama ada dua nyawa yang harus dikasih makan kan? Belum lagi saat merasakan tendangan-tendangan ajaib itu.

Dan kemudian saat si kecil sudah dilahirkan. Mama harus siap begadang tiap malam, berjuang menyusuinya. Rasa takut itu kemudian timbul. Ditambah tekanan, mungkin saja ASI Mama belum lancar keluarnya, padahal segala usaha sudah dicoba.

Apalagi kalau si bayi batuk dan pilek. Mama akan berkata pada diri Mama sendiri, “Mereka nggak akan pilek saat mereka masih di perut.”

You suddenly miss your pregnancy time.

Kecemasan Mama akan kondisi bayi Mama inilah kemudian bisa memicu depresi.


2. Ingin libur dari tugas-tugas yang lain


You baby is addictive. Mama bisa memeluk, mencium, dan menimangnya sepanjang waktu. Mama tak bisa melepas pandangan mata Mama darinya. Mama tak pernah merasa lelah untuk berada di dekatnya.

Sayangnya, ada banyak tugas lain yang harus diselesaikan. Ada makanan yang harus dimasak untuk suami, ada tumpukan piring untuk dicuci, rumah untuk dibereskan, dan mungkin bahkan ada anak-anak lain untuk diurus.

Ada perasaan ingin mengabaikan semuanya, kecuali tentang si newborn baby. Apalagi jika yang lain-lain itu begitu melelahkan, menambah ‘jam kerja’ Mama yang makin panjang setelah malam-malam kurang tidur karena si bayi masih belum teratur jam tidurnya.

Oh, rasanya pengin rebahan saja di samping si bayi kan, Ma?

Ah, hati-hati, Ma, depresi sudah mulai merayapi pikiran Mama.


BACA JUGA


Setelah Melahirkan, Banyak Perempuan Kehilangan Kepercayaan Dirinya - 4 Langkah Ini Akan Efektif Mengembalikannya!

Setelah Melahirkan, Banyak Perempuan Kehilangan Kepercayaan Dirinya - 4 Langkah Ini Akan Efektif Mengembalikannya!

Momen kehamilan dan melahirkan adalah dua hal yang sangat menakjubkan bagi perempuan. Bahkan sebagian orang menganggapnya sebagai “ ...

Read more..


3. Kehilangan waktu kebersamaan dengan yang lain


Sebelumnya, Mama rajin nongkrong ngopi-ngopi di kafe bareng teman-teman? Pasti Mama sudah nggak sesering dulu lagi nongkrongnya sekarang ya. Atau bahkan, sama sekali sudah nggak pernah?

Sebelumnya, Mama teratur nonton film di bioskop, baik bareng suami, teman-teman atau keluarga yang lain? Pasti sekarang sudah berkurang ya. Paling banter nonton film-film yang diputar di televisi kabel, dengan si bayi dalam pelukan.

Sebelumnya Mama bisa dengan leluasa jalan-jalan ke mana saja. Sekarang?

Kangen, Ma, dengan waktu-waktu itu? Apalagi kalau si Baby punya kakak. Merasa waktu Mama berkurang dalam mengurus si Kakak?

Wajar jika Mama kemudian depresi dan terpikir bahwa mengurus si Baby itu ternyata telah menyita segala-galanya. Ya waktu, tenaga, dan cinta pada yang lain.


4. Nggak mau / takut keluar rumah dengan mengajak si Baby


Mama perlu keluar rumah. Tapi, bagaimana dengan si bayi? Nggak ada orang untuk dimintai bantuan menjaga bayi Mama barang sejenak. Ada si Kakak juga. Padahal urusan ini begitu penting. Nggak bisa ditunda.

Bayangan membawa si bayi keluar rumah tiba-tiba saja menjadi sangat menakutkan. Bagaimana nanti kalau ia tiba-tiba rewel? Bagaimana nanti kalau tiba-tiba popoknya penuh dan harus diganti? Bagaimana nanti kalau si Kakak berkeliaran ke mana-mana tanpa bisa dikendalikan?

Lalu, orang-orang, biasanya mereka suka gemes pada bayi? Gimana kalau bayi Mama dicolak-colek, lalu mereka minta gendong si Baby padahal kita nggak tahu apa tangannya bersih?

Dan kemudian tiba-tiba, Mama merasa depresi, bingung dan nggak tahu harus gimana. Rasanya punya bayi ini merepotkan sekali ya? Hiks.


5. Breastfeeding is overwhelming


Semua mama pasti ingin anaknya sehat, terpenuhi kebutuhannya, dan kemudian tumbuh sempurna. Namun, kadang kondisi dan situasinya menjadi sangat berbeda.

Bahkan para mama yang ASI-nya lancar pun sekali dua kali waktu pernah terpikir untuk menyerah. Apalagi bagi Mama yang masih saja berjuang memperlancar ASI-nya. Semua sangat exhausting ya, Ma. Melelahkan, membuat Mama kewalahan dan merasa depresi.

Akhirnya memang ada Mama yang terus berjuang, dan ada pula yang memilih alternatif yang lain karena punya alasan-alasan tertentu yang tak boleh kita hakimi.

Belum lagi, perkataan orang-orang di sekitar Mama, inilah itulah. Ditambah dengan perang di antara para mama sendiri mengenai ASI dan susu formula. Aduduh.


BACA JUGA


Please, Jangan Memicu Baby Blues Syndrome dengan Melontarkan Pertanyaan dan Pernyataan yang Menghakimi Ini!

Please, Jangan Memicu Baby Blues Syndrome dengan Melontarkan Pertanyaan dan Pernyataan yang Menghakimi Ini!

Baby blues syndrome itu nyata, dan risikonya tak bisa dianggap remeh. Jadilah pintar, bijak dan suportif, dengan tidak melontarkan komentar ...

Read more..


Ya, Mama, semua hal di atas memang wajar datang dalam pikiran mama dari bayi yang baru lahir. Itulah gejala awal dari baby blues syndrome.

Apa itu Baby Blues Syndrome?

Baby Blues Syndrome adalah salah satu bentuk depresi di mana Mama merasa sedih dan galau nggak jelas berkepanjangan setelah melahirkan. Hal ini berhubungan dengan perubahan hormonal Mama, yang memang alami terjadi pasca melahirkan.

Jika Mama sedang berada dalam fase ini sekarang, tak perlu cemas, Ma. Karena dalam beberapa bulan mendatang, semua akan membaik dengan sendirinya. Namun, jika memang Mama menemukan kesulitan dan perasaan nggak jelas itu semakin sering saja datang, ada baiknya Mama meminta pertolongan keluarga ataupun berkonsultasi pada dokter.

Saat Mama sudah mampu melewatinya, Mama akan segera kembali bisa beraktivitas rutin, bisa membagi waktu antara mengurus si bayi, dan juga si Kakak plus suami Mama. Bahkan mungkin Mama akan juga mulai bisa lagi nongkrong-nongkrong cantik bersama teman-teman Mama di kedai kopi favorit seperti dulu lagi. Mama akan semakin pengalaman dan semakin “profesional” sebagai ibu. Mama hanya butuh waktu menyesuaikan diri.

It’s ok to admit all of those feelings, Ma. Karena semuanya wajar adanya. Mama sedang berada dalam masa-masa euforia mendapatkan anugerah terindah sebagai perempuan. Dan Mama pasti akan bisa mengatasinya, because you’re a Rocking Mama!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Depresi Pasca Melahirkan Bisa Berawal dari 5 Hal yang Enggan Diungkapkan oleh Para Ibu Baru Ini - Waspadai!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Carolina Ratri | @carolinaratri

An INFJ-T sarcastic sagittarian Managing Editor of Rocking Mama. Deeply passionate about writings, graphic designs, hand-drawings, and hand-letterings. Read her journal at www.CarolinaRatri.com

Silahkan login untuk memberi komentar